Search This Blog

Tuesday, 12 July 2011

sebuah ruby

Alkisah, di sebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu rubi yang sangat indah. Raja sangat menyayangi, mengaguminya, dan berpuas hati karena merasa memiliki sesuatu yang indah dan berharga. Saat permaisuri akan melangsungkan ulang tahunnya, raja ingin memberikan hadiah batu rubi itu kepada istri tercintanya. Tetapi saat batu itu dikeluarkan dari tempat penyimpanan, terjadi kecelakaan sehingga batu itu terjatuh dan tergores retak cukup dalam.
Raja sangat kecewa dan bersedih. Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan, tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga tersebut.
“Mohon ampun, Baginda. Goresan retak di batu ini tidak mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti keadaan semula.”
Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang mungkin waktu itu terlewatkan.
Tidak lama kemudian datanglah ke istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh, mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk menghadap.
“Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena kerusakan batu rubi kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk melihat dan mencoba memperbaikinya. ”
“Baiklah, niat baikmu aku kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut.
Setelah melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan
semula, tetapi bila diperkenankan, saya akan membuat batu rubi retak ini menjadi lebih indah.”
Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu rubi itu, raja akhirnya setuju. Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok.
Beberapa hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata rubi yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah. Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.”
Si ahli permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah membuat raja yang dicintainya berbahagia.

Sunday, 10 July 2011

Kita tak pernah sendiri

(Alone but not Alones)

Seekor lebah madu menjalani kesehariannya untuk mencari nectar bersama sahabat-sahabatnya. Suatu ketika dia terpisah dari sahabat-sahabatnya dan tersesat, lebahpun merasa sangat sedih, ia merasa sangat kehilangan sahabat-sahabatnya. Mereka yang selalu bersamanya. Namun sang lebah tidak menyerah dia berusaha keras untuk menemukan sahabat-sahabatnya dan kembali kesarang. Setelah sekian lama mencari ia masih belum dapat menemukan sahabat-sahabatnya, maka tersirat dalam fikirannya bahwa sahabatnya telah pergi meninggalkannya. Dalam keadaan tersebut lebah berusaha untuk belajar kembali, ia belajar mendengar, melihat dan merasakan, bukan dengan indranya ia melakukan hal tersebut melainkan menggunakan hatinya dengan nuraninya, karena hal tersebutlah akhirnya ia menemukan kembali sahabat-sahabatnya yang tadinya ia kira telah meninggalkannya. Bahkan ia akhirnya bisa menemukan pasangannya.