Nama Indonesia ber asal dari bahasa Yunani. Dari kata Indo dan Nesos. Indo yang berarti India atau Hindia, Sadangkan nesos yang berarti Kepulauan. Dengan demikian arti nama Indonesia adalah kepulauan hindia atau india. kata Nesos digunakan digunakan karena miri dengan nama nusa dan memiliki umur yang sama.
Nama indonesia pertama muncul dari tulisan ilmiah seorang inggris bernama george samuel windsor Earl. Earl adalah seorang ahli ethnologi yang meneliti bangsa-bangsa dikepulauan nusantara. Ia menyebut nama bangsa yang berada di kepulauan tersebut sengan nama Indu-nesia dan melayunesia pada tulisannya yang ia buat tahun 1835-1850.
kemudian james richardson Logan pada tahun 1850 menulis suatu karangan ilmiah yang berjudul “The Ethnology of The India Archipelagoand Eastern, dalam karangantersebut ia menyebut kepulauan nusantara dengan nama indonesia. Logan juga menggunakan nama indonesia untuk menyebut penduduk kepulauan itu yang berkulit lebih terang dibanding yang berada diwilayah timurnya.
Orang yang mempopulerkan nama indonesia adalah Adolf Bastian seorang jerman yang ahli dalam Etnologi, ia menggunakan nama tersebut pada tahun 1884 dalam karangan ilmiah yang berjudul Indonesien Oder Die Inseln Des Malayischen Archipels. Sejak itu nama indonesia makin populer untuk menyebut nama wilayah yang juga disebut sebagai hindia belanda.
Pribumi yang mula-mula menggunakan nama indonesia adalah suwardi suryaningrat(Ki Hajar Dewantara) ketika dibuang kenegeri belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Nama indonesia juga diperkenalkan sebagai pengganti nama Indisch(Hindia) oleh Prof Cornelis van vollenhoven seorang ahli hukum adat(1917) ia selalu menggunakan nama indonesia untuk menggantikan nama Inlander dalam karangannya yang berjudul Het Adatrecht van Nederlands-Indie.
Search This Blog
Thursday, 29 April 2010
Wednesday, 28 April 2010
Mengatasi anak yang susah makan
Kaum ibu sering menghadapi masalah anak susah makan. Masalah ini timbul karena anak berada dalam usia peralihan. Anak pada usia batita mengalami adaptasi dari makan cair dan lembek ke makanan yang lebih keras, dan penyesuaian itu cukup sulit bagi anak. Jadi, bila anak susah makan, kitalah yang mengupayakan untuk mengatasinya. Jangan buru-buru jengkel lalu marah-marah pada si kecil.
Masalah makan si kecil memang membuat kita jadi serba salah. Bahkan, tak jarang jadi sering kehabisan akal. “Saya langsung over reactive waktu Siska susah makan. Saya takut dia kekurangan gizi,” ujar seorang ibu tentang anaknya, Siska. Akibatnya, Siska langsung “dijejali” dengan seabrek makanan. Apa yang terjadi? Siska malah semakin mengunci rapat-rapat mulutnya!
Fisik atau psikis?
Untuk urusan makan, sebenarnya balita (terutama usia 0-12 bulan) adalah konsumer pasif. Artinya, dia lebih banyak mengonsumsi makanan yang sudah kita pilihkan. Dari sinilah sebetulnya anak mulai belajar perihal pola makan. Bagaimana pola makan yang anda tanamkan pada saat ini akan menentukan pola makan dan juga kebiasaan makan si kecil di masa depan. Menurut dr. Dida Ahmad Gurnida, Sp.A, MKes., pengajar di Subbagian Nutrisi dan Metabolisme, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran – RS Hasan Sadikin, Bandung, “Ada tiga jenis gangguan pola makan yang kerap dialami oleh balita, yaitu sulit makan, pilih-pilih makanan atau picky eater, serta susah mengontrol nafsu makan alias makan melulu.” Manakah yang paling banyak terjadi pada balita?
“Walau secara nasional belum ada data, gangguan makan yang paling banyak dialami anak-anak usia ini di Indonesia adalah sulit makan, khususnya anak usia 6 bulan ke atas,” jawab dr. Dida. Sebenarnya, penyebab sulit makan pada balita terdiri dari dua faktor, yaitu fisik dan psikis.
Kalau fisik yang jadi pemicu, misalnya karena ada gangguan di sistem saluran pencernaan, akibatnya si kecil mual setiap kali makan. “Atau, bisa juga memang ada gangguan di gigi-geliginya, dan sebagainya. Namun, jangan panik dulu. Presentase akibat faktor ini kecil sekali,” kata dr. Dida lagi. Bagaimana dengan faktor psikis? “Justru inilah yang jadi penyebab utama sulit makan pada balita. Namun, ada tapinya. Faktor ini juga jadi pemicu timbulnya gangguan makan lainnya,” sambung dr. Dida.
Menurut Dra. Dini Daengsari, MSi., staf pengajar dari jurusan Psikologi Perkembangan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, “Secara psikis, gangguan pola makan balita ternyata akibat kesalahan para orang tua juga. Bukankah anda yang menyediakan makanan bagi si kecil?” Dini menyatakan lagi, “Karena merasa cemas anaknya tidak mau makan, kita langsung memberinya makanan sesuai porsi kita. Atau, kalau si kecil masih juga tidak mau makan, pilihannya cuma dua. Dipaksa makan atau dimarahi,” katanya Tidak hanya itu. Biasanya, anak juga dipaksa duduk manis ketika makan. Kalau sudah begini, makan anak diasosiasikan anak sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal, suasana makan yang menyenangkan amat membantu dalam pemberian makan pada anak.
Bagaimana dengan si picky eater ? Bisa jadi ini karena variasi makanannya tidak cukup banyak. Atau, karena suka rasa tertentu saja, si kecil hanya mau makan yang itu-itu saja. “Celakanya, kemauan si anak ini selalu kita turuti. Alasannya? Daripada tidak makan,” lanjut Dini. Psikolog UI ini juga mengatakan bahwa anak yang tidak bisa mengontrol nafsu makannya adalah masalah juga. “Bisa jadi, ini karena kebiasaan anak dari kecil. Kita kan senang tuh melihat anak yang makan banyak, sehingga dia dibiasakan untuk makan melulu. Akhirnya, anak berpikir kalau makan banyak itu adalah sesuatu yang diharapkan olehorang tuanya. Masalahnya, kebiasaan ini bisa terbawa sampai ia remaja kelak,” katanya lagi. Dalam hal ini dr. Dida menambahkan, “Karena Anda selalu menuruti nafsu makannya, lama-kelamaan anak tidak punya rangsang lapar dan tidak mengenal rasa kenyang. Dia akan makan terus, terus dan terus. Ini yang bahaya!”
Perilaku orang tua yang kurang tepat lainnya adalah, “Pemberian makan dijadikan semacam reward . Kalau si kecil melakukan sesuatu yang baik, ia akan diberi ‘penghargaan’, berupa makanan kesukaannya. Akhirnya, makanan jadi sesuatu yang diharapkan,” sambung Dini. Jadi, gangguan pola makan si kecil memang ujung-ujungnya bermuara pada orang tua juga. Kita harus sadar bahwa anak selalu punya strategi untuk “mengalahkan” orang tuanya. Salah satunya, ya dengan memanipulasi “kelemahan” orang tua dalam urusan makannya dengan jalan mogok makan kalau tidak diberi hadiah, misalnya. “Makanya, sejak awal anda atau pasangan harus menanamkan pola makan yang sehat dan sesuai takaran makan anak. Dengan begitu, anak akan mempunyai pola makan yang benar,” tegas dr. Dida.
Begitu melihat adanya gangguan pola makan si kecil, sebaiknya anda segera membawanya ke dokter. Karena, bila gangguan makan anak dibiarkan berlarut-larut, kesehatannya jadi taruhannya. Misalnya, kurang gizi dan sebagainya. Sebelumnya, anda bisa mengira-ngira gangguannya termasuk jenis yang mana? Nggak susah kok untuk mengetahuinya. Lihat saja intake makanannya. Kurang atau berlebih? Anda bisa memantau kondisi gizinya berdasarkan berat badan terhadap tinggi badan. Caranya, lihat saja dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) yang ada pada buku periksa rutin anak anda. Setelah diperiksa dokter dan bila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa gangguan makan si kecil sifatnya psikis, barulah anda membawanya ke psikolog anak.
Ini solusinya!
Bila gangguan pola makan balita ternyata faktor psikis, hal ini masih harus dilihat case by case . Misalnya saja, jika susah makannya akibat ‘dipaksa’ makan, sebaiknya anda cari kiat untuk menghilangkan traumanya, seperti mengganti makanannya untuk sementara waktu. “Sebenarnya, menciptakan suasana makan yang menyenangkan tidak susah. Yang penting, jangan memaksa anak untuk makan ini itu. Bahkan, kalau perlu, si kecil diajar untuk memilih. Tentu saja ada syaratnya. Perkenalkan anak dengan berbagai variasi makanan, lalu biarkan ia memutuskan sendiri makanan yang diinginkannya,” saran Dini.
Nah, agar si kecil berpola makan benar, anda perlu tahu kebutuhan dan ukuran makannya yang paling pas. Pada intinya, pola makan balita harus bergizi seimbang. Ini berarti, zat-zat gizinya harus komplit dan diberikan dalam porsi yang sesuai. Selain itu, jadwal pemberian makanannya harus dilihat lagi. Sebagai catatan, pemberian makan pada anak sangat individual sekali sifatnya. Ada anak yang makan sedikit tapi sering, namun ada juga yang makannya sesuai jadwal makan keluarga, yaitu 3-4 kali sehari. “Jadi, penting untuk mendiskusikan hal-hal ini dengan dokter anak Anda,” ujar dr. Dida.
Pola Makan yang Baik
Pola makan anak dikatakan baik bila memenuhi tiga aspek berikut:
* Aspek fisiologis. Memenuhi kebutuhan gizi untuk proses metabolisme, membantu proses pertumbuhan, perkembangan fisik dan psikomotor anak.
* Aspek edukatif. Anak jadi pandai mengonsumsi makanan, dan membentuk kebiasaan memilih makanan yang baik.
* Aspek psikologis. Memenuhi kepuasan atas rasa lapar dan haus pada anak.
Penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya :
1.Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.
Menu makan saat bayi (> 6 bl) yg itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk spt makanan diblender jadi satu. Sama spt
orang dewasa, kalau kita makan dg menu yg sama tiap hari dan disajikan dg campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dg pengenalan makanan kasar.
Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak min. selama 1 minggu utk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter- nya ibu memberikan makanan bervariasi. Spt kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dg roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yg menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dg lauk pauknya. Hias dg aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dg cetakan kue yg lucu. Hal ini tidak hanya berlaku bagi si kecil. Orang dewasa sekalipun akan tertarik menyantap makanan yang dihidangkan apik. Sayuran misalnya, kebanyakan anak tiadk suka makan sayuran. Padahal kandungan gizinya luar biasa. Padahal, menyiasatinya tak sulit. Sayuran bisa dijadikan bentuk-bentuk yang menarik. Warnanya pun mendukung untuk menarik perhatian anak. Dalam hal ini, dituntut kreativitas sang ibu. Selain bentuk dan penyajian makanan, keragaman menu makanan dapat menghindarkan kebosanan anak.
2.Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan , sehingga anak tidak merasa lapar.
Seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan.
Tips : Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat spt potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.
3. Minum susu terlalu banyak
Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa menggantikan makanan utama spt nasi, sayur & lauk pauknya Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu..Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1th, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Kan kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan dalam ikan-ikanan, sayur & buah.
Tips : Kurangi susu ! Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dg berbagai jenis makanan. Ubah pola pikir orangtua.
4. Terpengaruh kebiasaan orang tuanya.
Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orang tuanya. Banyak perilaku yg dilakukan ortunya yg mempengaruhi perilaku makan anak. Mis. anak yang tumbuh dalam
lingkungan keluarga yang malas makan (ex. diet), akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang sudah kelas V SD. Akibatnya anak gak terlatih untuk bisa makan sendiri. Perilaku makan yang kurang pas juga spt kebiasaan ortu ketika menenangkan anak yg sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Akibatnya anak kekenyangan & malas makan.
Tips :
Perhatikan & ubah kebiasaan & perilaku orang tua kapanpun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yg ia dapat dari lingk sekitarnya, terutama ortunya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Gak perlu takut berantakan. Feeding is about learning.
5. Munculnya sikap negativistik ( fase normal yg dilewati tiap anak)
Pada usia >2 th, anak sering membangkang / tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang gak mau, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yg dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk independent . Jadi batita umumnya ditandai dengan AKU, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya power. Nah banyak ortu yg gak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada ortu yg mengancam anaknya bahkan memukul. Cara2 tsb harus dihindari.
Justru semakin anak pd usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya) . Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang
sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.
Tips : Pahami kondisi anak dg baik. Jadilah ortu yg otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yg baik dg anak. Bersabarlah menghadapi anak.
Kan rumah adalah madrasah pertama & utama bagi anak.
6. Anak sedang sakit / sedih
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan krn anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan cerewet, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.
Tips : Kembali pada konsep bina komunikasi yg baik. Jangan paksakan anak kalau gakmau makan. Beri makanan ringan yg padat kalori, spt makaroni skutel, dsb.
7. Tetap kreatif mengolah & menyajikan makanan, bina komunikasi yg baik, terus belajar menjadi ortu & memahami kondisi anak, dan bersabar.
8. Bagi ibu yang bekerja, luangkan waktu sebentar saja tetapi berkualitas untuk menyuapi anaknya. Sebab, sebenarnya anak-anak sangat mengerti bila ibunya bekerja.
9. Berikanlah kepuasan psikis kepada anak yang sesuai dengan usianya, dan buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya anak makan sambil jalan-jalan, melihat kereta api, dan lain-lain. Problem utama anak susah makan itu 6 bulan sampai 2 tahun. Asal usia itu terlewati dengan bagus, Insya Allah ke depannya tidak ada masalah.
10. Pada saat orang tua baik ibu maupun ayahnya pulang kerja, pertama kali yang harus dipegang atau disapa adalah anaknya. Jangan yang lain.
11. Jangan memaksa anak makan sampai mencekoki, mencubit atau bahkan memelototi. Bagaimana bila anak tidak mau sayur, tahu-tempe, dan makanan bergizi lainnya? sebaiknya anak ‘dilaparkan’ dulu. Tetapi, kita siapkan makanan yang sudah kita programkan, nanti berangsur-angsur dia akan mau, tetapi memang perlu telaten, disiplin.
12. Sebaiknya sedini mungkin kita menerapkan penghargaan dan hukuman yang edukatif. Misalnya, pada waktu anak mau makan dipuji, diajak jalan-jalan, ciuman, pelukan. Bila tidak mau makan, katakan, misalnya, ibu atau ayah tidak mau lihat televisi bersama-sama, tidak mau jalan-jalan lagi.
13. Setelah anak berusia enam bulan, lebih bagus membuat bubur sendiri, karena ada macam-macam pilihan sayuran dan lauk-pauk yang bisa mengurangi kejenuhan rasa. Misalnya, hati dengan bayam, kemudian wortel dengan tempe, kangkung dengan tahu, dan sebagainya. Namun, bila dengan makanan tersebut anak mengalami diare atau muntah maka menu harus dievaluasi.
14. Pada saat bayi mengalami perubahan makanan seperti enam bulan, sembilan bulan satu tahun, dia akan merasa-rasakan karena rasanya aneh sehingga kadang dimain-mainkan seperti dimuntahkan, ini harus dimasukkan lagi. Prinsipnya bila makanan tersebut dimuntahkan, harus sedikit-sedikit dan makanannya harus lebih cair lagi.
15. Pada kasus anak yang mengalami gangguan psikis yang manifestasinya pada lambung dengan muntah bisa teratasi kira-kira setelah tiga tahun. Tetapi, kasus seperti itu jarang dan tidak menjadi masalah asal kebutuhan gizi, kalori, lemak, proteinnya tercukupi.
16. Jangan panik. Tidak mungkin anak sengaja membuat dirinya kelaparan. Ingat, pertambahan berat anak kecil maksimal adalah 2 kg (sekitar 4 1/2 lb) setahun. Karena itu janganlah terkejut apabila dia tidak mau makan 3 kali sehari secara normal.
17. Pastikan anak anda tidak mengkonsumsi jus terlampau banyak. Terlalu banyak jus membuat perut penuh dan menurunkan selera makan sehingga tidak cukup tempat untuk makanan bergizi. Bila anak merasa haus, berikan dia air minum.
18. Coba hidangkan sayur mentah (hindari sayur yang sulit dikunyah, wortel misalnya); banyak anak lebih menyukainya ketimbang sayur yang dimasak.
19. Jangan memberikan pilihan lain ketika anak menolak apa yang dihidangkan di depannya. Kalau anak lapar, dia akan menyantapnya pada jam makan berikutnya.
20. Satu jam makan cukup 30 menit saja. Walau makannya tidak banyak, hentikanlah tanpa sikap emosional.
21. Jangan jadikan makanan pencuci mulut sebagai umpan atau hadiah karena mau makan. Apabila pencuci mulut memang bagian dari menu, jangan paksa dia mengosongkan piringnya dulu. Berdasarkan penelitian, membujuk atau mengumpan agar anak mau makan seringkali akibatnya malah berlawanan dengan tujuan dan anak justru makan lebih sedikit ketimbang dibiarkan sendirian.
22. Jangan mengganti makanan dengan suplemen multivitamin dan mineral; berikanlah sesuai dosis yang dianjurkan ahli kesehatan anda.
23. Sebaiknya kita juga memberi contoh dengan mengkonsumsi makanan yang sama dengan lahap. Bila anak melihat orang tua memakannya, maka anak akan cenderung meniru dan juga ikut memakannya. Tanpa dipaksapun, anak akan ingin mencoba makanan tersebut. Tak akan ada gunanya memaksa anak makan sayur, sedangkan orang tuanya tidak makan sayuran.
24. Bila mengajak anak ke restoran, pilihlah restoran yang memberikan pilihan menu makanan yang cukup sehat. Jangan terlalu sering membawa anak ke restoran fastfood. Makan di restoran juga bisa digunakan untuk mengajar anak berperilaku baik saat makan.
25. Kebiasaan jajan. Jajan seringkali menggangu makanan utama anak. Bila orang tua membiarkan anak untuk makan jajanan, maka di kemudian hari anak akan selalu mencari jajanan. Bila anak merengek meminta makanan yang dilihat melalui iklan tv, diberikan teman atau dioleh-olehi kerabat, tanamkan disiplin bahwa makanan tersebut boleh dimakan sehabis menikmati makanan utama. Jadi, akan utama yang berisikan nutrisi yang dibutuhkan anak tetap dikonsumsi.
26. Jangan hukum anak bila makannya tidak oke.
27. Jangan menyogok anak untuk makan.
28. Jangan singgung-singgung kelakuan “nakal” anak pada saat makan.
29. Jangan harap anak langsung menerima makanan baru.
30. Larang anak melakukan hal-hal yang tidak anda sukai, seperti membuang atau melempar makanan.
Yang jelas dan perlu diingat baik2 oleh tiap ortu adalah, seberapapun anak gak mau / susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan ! Selama mentalnya sehat. Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.
Ingat, tanggung-jawab anda adalah memberikan ragam makanan yang bergizi seimbang. Tanggung-jawab anak adalah memutuskan berapa banyak yang dikonsumsi. Semakin dipaksa, akan semakin sulit untuk makan. Sebaliknya, orang tua menciptakan suasana yang menyenangkan, jadi si kecil akan merasa bahwa makan juga menyenangkan. Siapa yang memberi makan pun punya pengaruh. Bila yang memberi makan anak adalah orang yang ditakuti, yang sering memarahi dan memaksanya, maka anak akan merasa bahwa makan adalah hal yang menakutkan.
Pemikiran anak berbeda dari orang dewasa. Bila anak merasa makanan tidak enak, pastinya dia tidak akan mau memakannya, sekalipun penuh gizi dan nutrisi. Sebisa mungkin, berikanlah anak makanan yang rasanya enak. Jadi, kenalilah kebutuhan anak anda, dan tanamkan pola makan yang benar kepadanya. Tentu saja, hal ini harus dimulai dari diri anda dahulu.
Masalah makan si kecil memang membuat kita jadi serba salah. Bahkan, tak jarang jadi sering kehabisan akal. “Saya langsung over reactive waktu Siska susah makan. Saya takut dia kekurangan gizi,” ujar seorang ibu tentang anaknya, Siska. Akibatnya, Siska langsung “dijejali” dengan seabrek makanan. Apa yang terjadi? Siska malah semakin mengunci rapat-rapat mulutnya!
Fisik atau psikis?
Untuk urusan makan, sebenarnya balita (terutama usia 0-12 bulan) adalah konsumer pasif. Artinya, dia lebih banyak mengonsumsi makanan yang sudah kita pilihkan. Dari sinilah sebetulnya anak mulai belajar perihal pola makan. Bagaimana pola makan yang anda tanamkan pada saat ini akan menentukan pola makan dan juga kebiasaan makan si kecil di masa depan. Menurut dr. Dida Ahmad Gurnida, Sp.A, MKes., pengajar di Subbagian Nutrisi dan Metabolisme, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran – RS Hasan Sadikin, Bandung, “Ada tiga jenis gangguan pola makan yang kerap dialami oleh balita, yaitu sulit makan, pilih-pilih makanan atau picky eater, serta susah mengontrol nafsu makan alias makan melulu.” Manakah yang paling banyak terjadi pada balita?
“Walau secara nasional belum ada data, gangguan makan yang paling banyak dialami anak-anak usia ini di Indonesia adalah sulit makan, khususnya anak usia 6 bulan ke atas,” jawab dr. Dida. Sebenarnya, penyebab sulit makan pada balita terdiri dari dua faktor, yaitu fisik dan psikis.
Kalau fisik yang jadi pemicu, misalnya karena ada gangguan di sistem saluran pencernaan, akibatnya si kecil mual setiap kali makan. “Atau, bisa juga memang ada gangguan di gigi-geliginya, dan sebagainya. Namun, jangan panik dulu. Presentase akibat faktor ini kecil sekali,” kata dr. Dida lagi. Bagaimana dengan faktor psikis? “Justru inilah yang jadi penyebab utama sulit makan pada balita. Namun, ada tapinya. Faktor ini juga jadi pemicu timbulnya gangguan makan lainnya,” sambung dr. Dida.
Menurut Dra. Dini Daengsari, MSi., staf pengajar dari jurusan Psikologi Perkembangan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, “Secara psikis, gangguan pola makan balita ternyata akibat kesalahan para orang tua juga. Bukankah anda yang menyediakan makanan bagi si kecil?” Dini menyatakan lagi, “Karena merasa cemas anaknya tidak mau makan, kita langsung memberinya makanan sesuai porsi kita. Atau, kalau si kecil masih juga tidak mau makan, pilihannya cuma dua. Dipaksa makan atau dimarahi,” katanya Tidak hanya itu. Biasanya, anak juga dipaksa duduk manis ketika makan. Kalau sudah begini, makan anak diasosiasikan anak sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Padahal, suasana makan yang menyenangkan amat membantu dalam pemberian makan pada anak.
Bagaimana dengan si picky eater ? Bisa jadi ini karena variasi makanannya tidak cukup banyak. Atau, karena suka rasa tertentu saja, si kecil hanya mau makan yang itu-itu saja. “Celakanya, kemauan si anak ini selalu kita turuti. Alasannya? Daripada tidak makan,” lanjut Dini. Psikolog UI ini juga mengatakan bahwa anak yang tidak bisa mengontrol nafsu makannya adalah masalah juga. “Bisa jadi, ini karena kebiasaan anak dari kecil. Kita kan senang tuh melihat anak yang makan banyak, sehingga dia dibiasakan untuk makan melulu. Akhirnya, anak berpikir kalau makan banyak itu adalah sesuatu yang diharapkan olehorang tuanya. Masalahnya, kebiasaan ini bisa terbawa sampai ia remaja kelak,” katanya lagi. Dalam hal ini dr. Dida menambahkan, “Karena Anda selalu menuruti nafsu makannya, lama-kelamaan anak tidak punya rangsang lapar dan tidak mengenal rasa kenyang. Dia akan makan terus, terus dan terus. Ini yang bahaya!”
Perilaku orang tua yang kurang tepat lainnya adalah, “Pemberian makan dijadikan semacam reward . Kalau si kecil melakukan sesuatu yang baik, ia akan diberi ‘penghargaan’, berupa makanan kesukaannya. Akhirnya, makanan jadi sesuatu yang diharapkan,” sambung Dini. Jadi, gangguan pola makan si kecil memang ujung-ujungnya bermuara pada orang tua juga. Kita harus sadar bahwa anak selalu punya strategi untuk “mengalahkan” orang tuanya. Salah satunya, ya dengan memanipulasi “kelemahan” orang tua dalam urusan makannya dengan jalan mogok makan kalau tidak diberi hadiah, misalnya. “Makanya, sejak awal anda atau pasangan harus menanamkan pola makan yang sehat dan sesuai takaran makan anak. Dengan begitu, anak akan mempunyai pola makan yang benar,” tegas dr. Dida.
Begitu melihat adanya gangguan pola makan si kecil, sebaiknya anda segera membawanya ke dokter. Karena, bila gangguan makan anak dibiarkan berlarut-larut, kesehatannya jadi taruhannya. Misalnya, kurang gizi dan sebagainya. Sebelumnya, anda bisa mengira-ngira gangguannya termasuk jenis yang mana? Nggak susah kok untuk mengetahuinya. Lihat saja intake makanannya. Kurang atau berlebih? Anda bisa memantau kondisi gizinya berdasarkan berat badan terhadap tinggi badan. Caranya, lihat saja dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) yang ada pada buku periksa rutin anak anda. Setelah diperiksa dokter dan bila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa gangguan makan si kecil sifatnya psikis, barulah anda membawanya ke psikolog anak.
Ini solusinya!
Bila gangguan pola makan balita ternyata faktor psikis, hal ini masih harus dilihat case by case . Misalnya saja, jika susah makannya akibat ‘dipaksa’ makan, sebaiknya anda cari kiat untuk menghilangkan traumanya, seperti mengganti makanannya untuk sementara waktu. “Sebenarnya, menciptakan suasana makan yang menyenangkan tidak susah. Yang penting, jangan memaksa anak untuk makan ini itu. Bahkan, kalau perlu, si kecil diajar untuk memilih. Tentu saja ada syaratnya. Perkenalkan anak dengan berbagai variasi makanan, lalu biarkan ia memutuskan sendiri makanan yang diinginkannya,” saran Dini.
Nah, agar si kecil berpola makan benar, anda perlu tahu kebutuhan dan ukuran makannya yang paling pas. Pada intinya, pola makan balita harus bergizi seimbang. Ini berarti, zat-zat gizinya harus komplit dan diberikan dalam porsi yang sesuai. Selain itu, jadwal pemberian makanannya harus dilihat lagi. Sebagai catatan, pemberian makan pada anak sangat individual sekali sifatnya. Ada anak yang makan sedikit tapi sering, namun ada juga yang makannya sesuai jadwal makan keluarga, yaitu 3-4 kali sehari. “Jadi, penting untuk mendiskusikan hal-hal ini dengan dokter anak Anda,” ujar dr. Dida.
Pola Makan yang Baik
Pola makan anak dikatakan baik bila memenuhi tiga aspek berikut:
* Aspek fisiologis. Memenuhi kebutuhan gizi untuk proses metabolisme, membantu proses pertumbuhan, perkembangan fisik dan psikomotor anak.
* Aspek edukatif. Anak jadi pandai mengonsumsi makanan, dan membentuk kebiasaan memilih makanan yang baik.
* Aspek psikologis. Memenuhi kepuasan atas rasa lapar dan haus pada anak.
Penyebab anak susah makan & tips singkat mengatasinya :
1.Bosan dengan menu makan ataupun penyajian makanan.
Menu makan saat bayi (> 6 bl) yg itu-itu saja akan membuat anak bosan dan malas makan. Belum lagi cara penyajian makanan yg campur aduk antara lauk pauk spt makanan diblender jadi satu. Sama spt
orang dewasa, kalau kita makan dg menu yg sama tiap hari dan disajikan dg campur aduk, pasti akan malas makan. Begitu juga dg pengenalan makanan kasar.
Tips : Tentu saja variasikan menu makan anak. Jika perlu buat menu makan anak min. selama 1 minggu utk mempermudah ibu mengatur variasi makanan. Jadi tergantung pinter-pinter- nya ibu memberikan makanan bervariasi. Spt kalau anak gak mau nasi, kan bisa diganti dg roti, makaroni, pasta, bakmi, dsb. Penyajian makanan yg menarik juga penting sekali. Jangan campur adukkan makanan. Pisahkan nasi dg lauk pauknya. Hias dg aneka warna & bentuk. Jika perlu cetak makanan dg cetakan kue yg lucu. Hal ini tidak hanya berlaku bagi si kecil. Orang dewasa sekalipun akan tertarik menyantap makanan yang dihidangkan apik. Sayuran misalnya, kebanyakan anak tiadk suka makan sayuran. Padahal kandungan gizinya luar biasa. Padahal, menyiasatinya tak sulit. Sayuran bisa dijadikan bentuk-bentuk yang menarik. Warnanya pun mendukung untuk menarik perhatian anak. Dalam hal ini, dituntut kreativitas sang ibu. Selain bentuk dan penyajian makanan, keragaman menu makanan dapat menghindarkan kebosanan anak.
2.Memakan cemilan padat kalori menjelang jam makan , sehingga anak tidak merasa lapar.
Seperti permen, minuman ringan, coklat, hingga snack ber-MSG, dsb. Akibatnya ketika jam makan tiba anak sudah kekenyangan.
Tips : Atur makanan selingan atau cemilan jauh sebelum waktu makan tiba. Beri juga cemilan yang sehat spt potongan buah, sayur kukus, keju, yoghurt, es krim, cake buatan ibu, dsb.
3. Minum susu terlalu banyak
Susu di banyak keluarga dianggap sebagai makanan dewa yang bisa menggantikan makanan utama spt nasi, sayur & lauk pauknya Orangtua cenderung kurang sabar memberikan makanan kasar. Atau orang tua sering takut anaknya kelaparan, sehingga makanan diganti dengan susu..Akhirnya, daripada perut si anak tidak kemasukan makanan, diberikan saja susu berlebihan. Padahal setelah anak berusia 1th, kehadiran susu dalam menu sehari-hari bukanlah hal wajib. Secara gizi, susu hanya untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan fosfor saja. Kan kalsium dan fosfor ini dengan mudah kita dapatkan dalam ikan-ikanan, sayur & buah.
Tips : Kurangi susu ! Di atas usia 1 tahun kebutuhan susu hanya 2 gelas sehari. Mulailah melatih anak dg berbagai jenis makanan. Ubah pola pikir orangtua.
4. Terpengaruh kebiasaan orang tuanya.
Anak suka meniru apa yang dilakukan oleh anggota keluarga lainnya, terutama orang tuanya. Banyak perilaku yg dilakukan ortunya yg mempengaruhi perilaku makan anak. Mis. anak yang tumbuh dalam
lingkungan keluarga yang malas makan (ex. diet), akan mengembangkan perilaku malas makan juga. Perilaku lainnya, sering kita jumpai orang tua masih menyuapi anak yang sudah kelas V SD. Akibatnya anak gak terlatih untuk bisa makan sendiri. Perilaku makan yang kurang pas juga spt kebiasaan ortu ketika menenangkan anak yg sedang rewel dengan cara membelikan jajanan yang padat kalori (permen, minuman ringan, coklat, dsb.). Akibatnya anak kekenyangan & malas makan.
Tips :
Perhatikan & ubah kebiasaan & perilaku orang tua kapanpun, termasuk perilaku makan. Ingat, anak merekam, belajar & menerapkan semua hal yg ia dapat dari lingk sekitarnya, terutama ortunya. Biarkan anak mencoba memakan makanan sendiri sejak dini, tanpa disuapi. Gak perlu takut berantakan. Feeding is about learning.
5. Munculnya sikap negativistik ( fase normal yg dilewati tiap anak)
Pada usia >2 th, anak sering membangkang / tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang gak mau, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yg dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk independent . Jadi batita umumnya ditandai dengan AKU, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya power. Nah banyak ortu yg gak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada ortu yg mengancam anaknya bahkan memukul. Cara2 tsb harus dihindari.
Justru semakin anak pd usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya) . Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang
sampai dewasa emoh makan nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.
Tips : Pahami kondisi anak dg baik. Jadilah ortu yg otoritatif. Artinya bersikap tidak memaksa, tetapi juga tidak membiarkan begitu saja. Bina komunikasi yg baik dg anak. Bersabarlah menghadapi anak.
Kan rumah adalah madrasah pertama & utama bagi anak.
6. Anak sedang sakit / sedih
Anak tidak mau makan dapat juga disebabkan krn anak sedang sakit atau sedang sedih. Kalau semula anak terlihat aktif, riang dan cerewet, maka di kala sakit ia lebih suka diam dan terlihat malas-malasan.
Tips : Kembali pada konsep bina komunikasi yg baik. Jangan paksakan anak kalau gakmau makan. Beri makanan ringan yg padat kalori, spt makaroni skutel, dsb.
7. Tetap kreatif mengolah & menyajikan makanan, bina komunikasi yg baik, terus belajar menjadi ortu & memahami kondisi anak, dan bersabar.
8. Bagi ibu yang bekerja, luangkan waktu sebentar saja tetapi berkualitas untuk menyuapi anaknya. Sebab, sebenarnya anak-anak sangat mengerti bila ibunya bekerja.
9. Berikanlah kepuasan psikis kepada anak yang sesuai dengan usianya, dan buatlah agar suasana hatinya senang, misalnya anak makan sambil jalan-jalan, melihat kereta api, dan lain-lain. Problem utama anak susah makan itu 6 bulan sampai 2 tahun. Asal usia itu terlewati dengan bagus, Insya Allah ke depannya tidak ada masalah.
10. Pada saat orang tua baik ibu maupun ayahnya pulang kerja, pertama kali yang harus dipegang atau disapa adalah anaknya. Jangan yang lain.
11. Jangan memaksa anak makan sampai mencekoki, mencubit atau bahkan memelototi. Bagaimana bila anak tidak mau sayur, tahu-tempe, dan makanan bergizi lainnya? sebaiknya anak ‘dilaparkan’ dulu. Tetapi, kita siapkan makanan yang sudah kita programkan, nanti berangsur-angsur dia akan mau, tetapi memang perlu telaten, disiplin.
12. Sebaiknya sedini mungkin kita menerapkan penghargaan dan hukuman yang edukatif. Misalnya, pada waktu anak mau makan dipuji, diajak jalan-jalan, ciuman, pelukan. Bila tidak mau makan, katakan, misalnya, ibu atau ayah tidak mau lihat televisi bersama-sama, tidak mau jalan-jalan lagi.
13. Setelah anak berusia enam bulan, lebih bagus membuat bubur sendiri, karena ada macam-macam pilihan sayuran dan lauk-pauk yang bisa mengurangi kejenuhan rasa. Misalnya, hati dengan bayam, kemudian wortel dengan tempe, kangkung dengan tahu, dan sebagainya. Namun, bila dengan makanan tersebut anak mengalami diare atau muntah maka menu harus dievaluasi.
14. Pada saat bayi mengalami perubahan makanan seperti enam bulan, sembilan bulan satu tahun, dia akan merasa-rasakan karena rasanya aneh sehingga kadang dimain-mainkan seperti dimuntahkan, ini harus dimasukkan lagi. Prinsipnya bila makanan tersebut dimuntahkan, harus sedikit-sedikit dan makanannya harus lebih cair lagi.
15. Pada kasus anak yang mengalami gangguan psikis yang manifestasinya pada lambung dengan muntah bisa teratasi kira-kira setelah tiga tahun. Tetapi, kasus seperti itu jarang dan tidak menjadi masalah asal kebutuhan gizi, kalori, lemak, proteinnya tercukupi.
16. Jangan panik. Tidak mungkin anak sengaja membuat dirinya kelaparan. Ingat, pertambahan berat anak kecil maksimal adalah 2 kg (sekitar 4 1/2 lb) setahun. Karena itu janganlah terkejut apabila dia tidak mau makan 3 kali sehari secara normal.
17. Pastikan anak anda tidak mengkonsumsi jus terlampau banyak. Terlalu banyak jus membuat perut penuh dan menurunkan selera makan sehingga tidak cukup tempat untuk makanan bergizi. Bila anak merasa haus, berikan dia air minum.
18. Coba hidangkan sayur mentah (hindari sayur yang sulit dikunyah, wortel misalnya); banyak anak lebih menyukainya ketimbang sayur yang dimasak.
19. Jangan memberikan pilihan lain ketika anak menolak apa yang dihidangkan di depannya. Kalau anak lapar, dia akan menyantapnya pada jam makan berikutnya.
20. Satu jam makan cukup 30 menit saja. Walau makannya tidak banyak, hentikanlah tanpa sikap emosional.
21. Jangan jadikan makanan pencuci mulut sebagai umpan atau hadiah karena mau makan. Apabila pencuci mulut memang bagian dari menu, jangan paksa dia mengosongkan piringnya dulu. Berdasarkan penelitian, membujuk atau mengumpan agar anak mau makan seringkali akibatnya malah berlawanan dengan tujuan dan anak justru makan lebih sedikit ketimbang dibiarkan sendirian.
22. Jangan mengganti makanan dengan suplemen multivitamin dan mineral; berikanlah sesuai dosis yang dianjurkan ahli kesehatan anda.
23. Sebaiknya kita juga memberi contoh dengan mengkonsumsi makanan yang sama dengan lahap. Bila anak melihat orang tua memakannya, maka anak akan cenderung meniru dan juga ikut memakannya. Tanpa dipaksapun, anak akan ingin mencoba makanan tersebut. Tak akan ada gunanya memaksa anak makan sayur, sedangkan orang tuanya tidak makan sayuran.
24. Bila mengajak anak ke restoran, pilihlah restoran yang memberikan pilihan menu makanan yang cukup sehat. Jangan terlalu sering membawa anak ke restoran fastfood. Makan di restoran juga bisa digunakan untuk mengajar anak berperilaku baik saat makan.
25. Kebiasaan jajan. Jajan seringkali menggangu makanan utama anak. Bila orang tua membiarkan anak untuk makan jajanan, maka di kemudian hari anak akan selalu mencari jajanan. Bila anak merengek meminta makanan yang dilihat melalui iklan tv, diberikan teman atau dioleh-olehi kerabat, tanamkan disiplin bahwa makanan tersebut boleh dimakan sehabis menikmati makanan utama. Jadi, akan utama yang berisikan nutrisi yang dibutuhkan anak tetap dikonsumsi.
26. Jangan hukum anak bila makannya tidak oke.
27. Jangan menyogok anak untuk makan.
28. Jangan singgung-singgung kelakuan “nakal” anak pada saat makan.
29. Jangan harap anak langsung menerima makanan baru.
30. Larang anak melakukan hal-hal yang tidak anda sukai, seperti membuang atau melempar makanan.
Yang jelas dan perlu diingat baik2 oleh tiap ortu adalah, seberapapun anak gak mau / susah makan, ia tidak akan membiarkan dirinya kelaparan ! Selama mentalnya sehat. Artinya, begitu ia kelaparan, maka ia akan makan.
Ingat, tanggung-jawab anda adalah memberikan ragam makanan yang bergizi seimbang. Tanggung-jawab anak adalah memutuskan berapa banyak yang dikonsumsi. Semakin dipaksa, akan semakin sulit untuk makan. Sebaliknya, orang tua menciptakan suasana yang menyenangkan, jadi si kecil akan merasa bahwa makan juga menyenangkan. Siapa yang memberi makan pun punya pengaruh. Bila yang memberi makan anak adalah orang yang ditakuti, yang sering memarahi dan memaksanya, maka anak akan merasa bahwa makan adalah hal yang menakutkan.
Pemikiran anak berbeda dari orang dewasa. Bila anak merasa makanan tidak enak, pastinya dia tidak akan mau memakannya, sekalipun penuh gizi dan nutrisi. Sebisa mungkin, berikanlah anak makanan yang rasanya enak. Jadi, kenalilah kebutuhan anak anda, dan tanamkan pola makan yang benar kepadanya. Tentu saja, hal ini harus dimulai dari diri anda dahulu.
Thursday, 31 December 2009
biographi miekichi
Miekichi dilahirkan di kota Hiroshima sebagai putra ketiga dari ayah bernama Etsuji dan ibu bernama Fusa. Setelah lulus sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Hiroshima, Suzuki pindah ke Kyoto untuk bersekolah di Dai San Kōtō Gakkō (Sekolah Lanjutan Atas III sistem lama, sekarang Fakultas Seni Budaya Universitas kyoto Setelah lulus, Suzuki meneruskan ke Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Sastra Universitas kekaisaran tokyo
Sejak di bangku sekolah menengah, Suzuki sudah senang menulis. Cerita yang ditulisnya dengan nama pena Eizan sering dimuat majalah Shokokumin dan Shiensei Di kelas 2 SMP, sejumlah cerita anak yang ditulisnya, seperti Ahō Hato dimuat dalam majalah Shōnen Kurabu. Sewaktu masih di bangku kuliah, Suzuki menderita sakit dan pergi beristirahat ke pulau nomi di lepas pantai Prefektur Hiroshima. Pengalamannya selama di sana dituangkan dalam cerpen berjudul Chidori. Natsume sutseki memuji cerpen tersebut, dan mengusulkannya untuk dimuat dalam majalah Hototogisu Sejak itu pula, Suzuki menjadi salah seorang murid Sōseki dan menerima bimbingan dalam bidang tulis menulis.
Setelah lulus kuliah, Suzuki terus menulis sambil bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sekolah menengah pertama. Novelnya yang berjudul Kuwa no Mi dimuat bersambung di harian Kokumin dari Shinbun ngga 15 November 1913, dan namanya mulai terkenal sebagai novelis. Novel tersebut juga diterbitkan penerbit Shunyōdō pada bulan Januari tahun berikutnya. Namun setelah itu, Suzuki mengalami kebuntuan, dan berhenti menulis novel sejak tahun 1915 Pada tahun berikutnya, Suzuki beralih menjadi penulis bacaan anak setelah menulis cerita untuk anak perempuannya.
Pada tahun 1918 Suzuki menerbitkan majalah sastra anak Akai tori (Burung Merah), dan teman-temannya sesama sastrawan diminta untuk menyumbangkan tulisan.Ronosuke okutagawa menyumbangkan cerita anak-anak berjudul Kumono ito (Jaring Laba-laba), sedangkan Takeo Arishima dengan Hitofusa nobudo (Setangkai Buah Anggur). Kitahara hakushu menyumbangkan lagu anak-anak, sedangkan Osanai kaoru dan Kubota mantaro menyumbangkan naskah sandiwara anak-anak. Penulis bacaan anak seperti Joji tsubota dan nankichi niimi juga sering menulis untuk majalah Akai Tori.
Setelah terbit 196 edisi selama 17 tahun, penerbitan Akai Tori terhenti pada tahun 1936 setelah Suzuki meninggal dunia. Di masa jayanya, Akai Tori dikabarkan beroplah lebih dari 30 ribu eksemplar. Jumlah pembacanya diperkirakan jauh lebih banyak lagi. Majalah yang dibeli sekolah dan perkumpulan pemuda desa umumnya dibaca secara bergiliran.
Sejak tahun 1948 nama Suzuki Miekichi diabadikan dalam bentuk Penghargaan suzuki meikichi Penghargaan ini diberikan untuk anak-anak Jepang yang pandai mengarang.
Sejak di bangku sekolah menengah, Suzuki sudah senang menulis. Cerita yang ditulisnya dengan nama pena Eizan sering dimuat majalah Shokokumin dan Shiensei Di kelas 2 SMP, sejumlah cerita anak yang ditulisnya, seperti Ahō Hato dimuat dalam majalah Shōnen Kurabu. Sewaktu masih di bangku kuliah, Suzuki menderita sakit dan pergi beristirahat ke pulau nomi di lepas pantai Prefektur Hiroshima. Pengalamannya selama di sana dituangkan dalam cerpen berjudul Chidori. Natsume sutseki memuji cerpen tersebut, dan mengusulkannya untuk dimuat dalam majalah Hototogisu Sejak itu pula, Suzuki menjadi salah seorang murid Sōseki dan menerima bimbingan dalam bidang tulis menulis.
Setelah lulus kuliah, Suzuki terus menulis sambil bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sekolah menengah pertama. Novelnya yang berjudul Kuwa no Mi dimuat bersambung di harian Kokumin dari Shinbun ngga 15 November 1913, dan namanya mulai terkenal sebagai novelis. Novel tersebut juga diterbitkan penerbit Shunyōdō pada bulan Januari tahun berikutnya. Namun setelah itu, Suzuki mengalami kebuntuan, dan berhenti menulis novel sejak tahun 1915 Pada tahun berikutnya, Suzuki beralih menjadi penulis bacaan anak setelah menulis cerita untuk anak perempuannya.
Pada tahun 1918 Suzuki menerbitkan majalah sastra anak Akai tori (Burung Merah), dan teman-temannya sesama sastrawan diminta untuk menyumbangkan tulisan.Ronosuke okutagawa menyumbangkan cerita anak-anak berjudul Kumono ito (Jaring Laba-laba), sedangkan Takeo Arishima dengan Hitofusa nobudo (Setangkai Buah Anggur). Kitahara hakushu menyumbangkan lagu anak-anak, sedangkan Osanai kaoru dan Kubota mantaro menyumbangkan naskah sandiwara anak-anak. Penulis bacaan anak seperti Joji tsubota dan nankichi niimi juga sering menulis untuk majalah Akai Tori.
Setelah terbit 196 edisi selama 17 tahun, penerbitan Akai Tori terhenti pada tahun 1936 setelah Suzuki meninggal dunia. Di masa jayanya, Akai Tori dikabarkan beroplah lebih dari 30 ribu eksemplar. Jumlah pembacanya diperkirakan jauh lebih banyak lagi. Majalah yang dibeli sekolah dan perkumpulan pemuda desa umumnya dibaca secara bergiliran.
Sejak tahun 1948 nama Suzuki Miekichi diabadikan dalam bentuk Penghargaan suzuki meikichi Penghargaan ini diberikan untuk anak-anak Jepang yang pandai mengarang.
Wednesday, 30 December 2009
biodata shimokawa
Ōten Shimokawa (atau Hekoten Shimokawa) (下川凹天, Shimokawa Ōten?, Mei 1892 - 1973/05/26, Miyakojima, Okinawa, Jepang) yang japanese artis, dianggap sebagai salah satu seniman pendiri dan perintis anime. Little is known of his early personal life, other than his family moved to the Tokyo area when he was nine years old. Sedikit yang diketahui tentang kehidupan awal kehidupan pribadinya, selain keluarganya pindah ke Tokyo daerah ketika ia berusia sembilan tahun. Here he began working for Tokyo Puck Magazine as a political cartoonist and manga series artist, later becoming an editorial assistant. Di sini ia mulai bekerja untuk Tokyo Puck Majalah sebagai kartunis politik dan manga seri artis, kemudian menjadi asisten editor.
At the age of 26, Shimokawa was hired by Tenkatsu Production Company to create a short animated film . Pada usia 26, Shimokawa dipekerjakan oleh Perusahaan Produksi Tenkatsu pendek untuk membuat film animasi. Shimokawa used several animation techniques that were, at the time, unique: using chalk or white wax on a dark board background to draw characters, rubbing out portions to be animated, and drawing with ink directly onto film, whiting out animated portions. Shimokawa digunakan beberapa animasi yang teknik, pada saat itu, unik: menggunakan kapur atau lilin putih pada papan yang gelap untuk menggambar karakter latar belakang, mengusap keluar porsi untuk menjadi animasi, dan menggambar dengan tinta secara langsung ke film, kapur sirih keluar animasi bagian. At the time, celluloid cels (rather than modern acetate film) was costly and scarce in Japan, having to be imported. Pada waktu itu, seluloid cels (bukan modern asetat film) itu mahal dan langka di Jepang, karena harus diimpor. These techniques cut production costs, material costs and completion time. Teknik-teknik ini memotong biaya produksi, biaya material dan waktu penyelesaian.
The resulting film was Imokawa Mukuzo Genkanban no Maki , released in 1917. Film ini yang dihasilkan Imokawa tidak Mukuzo Genkanban Maki, dirilis pada tahun 1917. Though not the earliest animation created in Japan, it is considered to be the first "true" Anime film, as it was the first to be publicly shown in a theater. Meskipun tidak animasi yang paling awal dibuat di Jepang, dianggap menjadi yang pertama "benar" Film film, seperti yang orang pertama yang secara terbuka ditampilkan dalam teater. The film ran only five minutes. Film berlari hanya lima menit. As with many animation works created in Japan before the mid 1920s, no trace of the film, or any of Shimokawa's five other short films, has survived. Seperti banyak karya-karya animasi yang dibuat di Jepang sebelum pertengahan tahun 1920-an, tidak ada jejak dari film, atau salah satu dari lima Shimokawa film pendek lainnya, telah selamat.
Shimokawa's animation work was cut short by chronic health problems, and he returned to work as a consultant and editor for other production companies making animated films in the 30s and 40s. Shimokawa's animasi karya dipotong oleh masalah kesehatan kronis, dan ia kembali bekerja sebagai konsultan dan editor untuk produksi lainnya perusahaan yang membuat film animasi dalam 30-an dan 40-an. Not much is known of his later life; indeed, very few works bear mention of his contribution beyond his own personal works. Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan kemudian hari; memang, sangat sedikit karya beruang menyebutkan kontribusinya luar karya pribadinya.
At the age of 26, Shimokawa was hired by Tenkatsu Production Company to create a short animated film . Pada usia 26, Shimokawa dipekerjakan oleh Perusahaan Produksi Tenkatsu pendek untuk membuat film animasi. Shimokawa used several animation techniques that were, at the time, unique: using chalk or white wax on a dark board background to draw characters, rubbing out portions to be animated, and drawing with ink directly onto film, whiting out animated portions. Shimokawa digunakan beberapa animasi yang teknik, pada saat itu, unik: menggunakan kapur atau lilin putih pada papan yang gelap untuk menggambar karakter latar belakang, mengusap keluar porsi untuk menjadi animasi, dan menggambar dengan tinta secara langsung ke film, kapur sirih keluar animasi bagian. At the time, celluloid cels (rather than modern acetate film) was costly and scarce in Japan, having to be imported. Pada waktu itu, seluloid cels (bukan modern asetat film) itu mahal dan langka di Jepang, karena harus diimpor. These techniques cut production costs, material costs and completion time. Teknik-teknik ini memotong biaya produksi, biaya material dan waktu penyelesaian.
The resulting film was Imokawa Mukuzo Genkanban no Maki , released in 1917. Film ini yang dihasilkan Imokawa tidak Mukuzo Genkanban Maki, dirilis pada tahun 1917. Though not the earliest animation created in Japan, it is considered to be the first "true" Anime film, as it was the first to be publicly shown in a theater. Meskipun tidak animasi yang paling awal dibuat di Jepang, dianggap menjadi yang pertama "benar" Film film, seperti yang orang pertama yang secara terbuka ditampilkan dalam teater. The film ran only five minutes. Film berlari hanya lima menit. As with many animation works created in Japan before the mid 1920s, no trace of the film, or any of Shimokawa's five other short films, has survived. Seperti banyak karya-karya animasi yang dibuat di Jepang sebelum pertengahan tahun 1920-an, tidak ada jejak dari film, atau salah satu dari lima Shimokawa film pendek lainnya, telah selamat.
Shimokawa's animation work was cut short by chronic health problems, and he returned to work as a consultant and editor for other production companies making animated films in the 30s and 40s. Shimokawa's animasi karya dipotong oleh masalah kesehatan kronis, dan ia kembali bekerja sebagai konsultan dan editor untuk produksi lainnya perusahaan yang membuat film animasi dalam 30-an dan 40-an. Not much is known of his later life; indeed, very few works bear mention of his contribution beyond his own personal works. Tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan kemudian hari; memang, sangat sedikit karya beruang menyebutkan kontribusinya luar karya pribadinya.
Tuesday, 22 December 2009
asal mula manga
ASAL MULA KOMIK/MANGA
Perkembangan suatu hal tentu tak lepas begitu saja dari perjalanan masa lalunya, dan kejayaan masa lalu . Komik merupakan salah satu sinyalir "perekat budaya", komik melangsungkan evolusinya bersama-sama dengan berjalannya peradaban manusia. Kata 'komik' tersebut tidaklah berdiri sendiri, kata komik muncul pertama kali dengan ekornya 'strip' ( the comic strip) dan ia bukan pula merupakan suatu bentuk seni yang sama sekali baru seperti yang suka diangkat sebagian orang, komik diibaratkan sebuah perayaan atas kematian yang brilian dari konsepsi artistik yang sudah usang(out of date)
.
Secara naif biasanya komik strip di anggap mirip dengan narasi grafis (graphic narration). Kebiasaan ini adalah upaya menyetarakan komik dengan model awal narasi visual seperti gambaran/relief di Trajan Column atau Queen Mathilde’s, berikut pula contoh lainnya seperti lembaran-lembaran papirus Mesir, Bayeux Tapestry, novel cukilan kayu. Gambaran terdekatnya pada kita dapat di temui pada relief candi Borobudur dan Prambanan yang terkenal, secara spesifik Indonesia mempunyai Wayang Beber di Jawa, yang menggunakan teknik bercerita dengan gambar adegan per adegan. Dalanglah yang menarasikan satu persatu gulungan wayang beber dan menjalin kisah di dalamnya. Ada juga Prasi, ilustrasi dan lukisan dari daun lontar di Bali. Dan yang mendekati adalah ilustrasi naratif manuskrip Jawa yang banyak ditemukan berasal dari pertengahan abad ke 19, seperti Serat Rama Kawi, Serat Bratayuda, Serat Panji Jayakusuma, Serat Damarwulan . Tarik mundurlah lebih jauh lagi hingga ke lukisan dinding zaman pra-sejarah dan kita mempelajarinya sebagai sebuah arkeologi komik. Membedakan antara ‘komik’ dan model awal 'narasi visual' yang disebut-sebut itu, sedikit mirip seperti menganalogikan perbedaan 'sinema/bioskop/ layar tancap' dengan ‘wayang’(shadow teater/puppet); meski film atau animasi dapat di wayang-kan seperti dilakukan Lotte Reiniger(animator) , namun secara eksplisit kita bisa cukup jelas dalam membedakan keduanya.
Abad ke 19 di Eropa tercatat banyak eksplorasi dari narasi-narasi bergambar (illustrated narratives), yang beriringan dengan perkembangan teknologi cetak seperti zincography dan photoengraving. Tapi narasi itu, yang disebut "Images d’Epinal" di Perancis dan "Bilderbogen" di Jerman, masih menempatkan "jarak" antara teks dan gambar. Secara artistikal puncaknya kreasi cerita gambar (picture stories) ini dibuat oleh Rodolphe Toppfer dan Wilhelm Busch. Di abad-abad sebelumnya telah berlangsung eksprimen-eksperimen yang untuk sementara waktu terlihat antara teks dan ilustrasi berjalan di jalur yang berbeda, sampai akhirnya hadirlah ilustrasi cerita karya William Hogarth di tahun 1730-an yang menyatukan keterpisahan antara teks dan gambar, ke dalam satu jalinan cerita. Hogarth membuat sealami mungkin rangkaian adegan(sekuensial) dari sebuah visual naratif, dengan melukisan adegannya seolah-olah berada pada sebuah aksi panggung. Alhasil timbullah kesan dramatikal yang memikat. Apa yang Hogarth lakukan masa itu merupakan sesuatu hal yang sungguh berbeda dari cara mengillustrasi yang lazim di zamannya, sehingga dari sanalah diberikan sebutan yaitu "kartun(cartoon)". Konsepsi berupa setting antara teks dan gambar yang ia buat itu kelak akan menggiring adanya temuan sistematis penggunaan balon kata. Diduga konsepsi semacam ini berlanjut menelurkan asal-usul bentuk komik seutuhnya yaitu 'komik strip'.
Menjelang pergantian akhir abad ke 19, lahirnya bentuk budaya baru yang disebut komik ini, maka mulailah tampil ke depan pintu zaman sebuah model ekspresi baru yang populer. Menyandingkan pepatah Konfusius yang berbunyi, "A Picture means A Thousand Words", komik mendapatkan induksi pemaknaan yang lebih berarti sebagai sebuah media penyampai pesan yang memadukan teks narasi dan ilustrasi gambar. Sebagaimana yang diupayakan Will Eisner, seorang komikus Amerika yang sukses mengembangkan komik dalam bentuk yang ia sebut-sebut novel grafis (graphic novel), dimana dalam pandangannya buku komik merupakan montase kata dan gambar dimana seorang pembaca harus melatih kemampuannya menginterpretasikan hal-hal secara verbal dan visual bersamaan.
Rezim seni(seperti: perspektif, komposisi, sapuan kuas) dan rezim literatur(seperti: tata bahasa, plot, sintaksis) keduanya menjadi saling terataskan. Membaca komik adalah sebentuk upaya melakukan persepsi estetik (keindahan) dan pengejaran intelektual. Ia memperbandingkan komik sebagai seni merangkai adegan (sequential art) .
Komik dalam pandangan menurut Scott McCloud, "Juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequence, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer." Terjemahan yang dikutip dari bukunya Memahami Komik terbitan KPG adalah, "Gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjuktaposisi dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya."
Pada tahun 1973, Malte Dahrendorf menyebut komik sebagai benda/barang gambar secara masal adalah kisah bertekanan pada gerak dan tindakan yang ceritanya dalam urutan gambar dengan daftar dan jenisnya yang khas . Jika kita percaya pada tesis Marshall McLuhan yang menyebutkan tentang "Berakhirnya kurun waktu buku(bacaan/tulisan)" dan meramalkan "Kurun waktu berlambang gambar", maka berlimpahnya penggunaan bahasa visual seperti yang terdapat dalam komik masih akan meluas lagi.
Jepang menyimpan penamaan tersendiri untuk komik yaitu 'Manga', dengan huruf kanji yang sama di Cina disebut Man Hua. Sebelumnya sempat di kenal sebutan Ponchi-e (istilah untuk gambar-gambar dari majalah Punch yang terbit pertama kali tahun 1814 di Inggris) dan juga komikkusu (mengadaptasi dari kata comics). Asal usul istilah Manga sendiri tidak ada keterkaitan spesifik dengan pengertian manga sebagaimana kita kenal sekarang ini sebagai sebutan untuk komik ala Jepang. Dahulu pada tahun 1814, jilid pertama “Hokusai Manga” diterbitkan, isinya adalah sketsa-sketsa Katshuhika Hokusai(1760-1849), seorang artis ukiyo-e (seni cukil kayu Jepang) yang terkenal, diterbitkan sebanyak 15 jilid. Tak ada gerak-gerik manusia yang luput dari ketajaman observasi matanya dan goresan kuasnya yang ekspresif. Hokusai menggambarkan obyektifitas pandangannya tentang kemanusiaan dari sisi yang humoris . Artis lain yang dinilai punya peran penting pada dunia komik Jepang adalah Yoshitoshi Tsukioka (1839-1892) artis ukiyo-e generasi akhir masa Meiji, adalah artis yang sangat baik melukiskan monster, makhluk aneh dan fantasi.
Konotasi manga kala itu disamakan dengan cartoon, dengan caranya sendiri-sendiri William Hogarth dan Katshuhika Hokusai melahirkan bentuk ilustrasi yang berbeda dari umum di tempat dan zamannya masing-masing. Adalah Rakuten Kitazawa(1876-1955) yang kemudian menjeneralisirkan penggunaan istilah Manga sebagai pengertian untuk kartun dan komik strip di Jepang, melalui suplemen hari minggu di harian Jiji Shinpou. Karya-karyanya masih sangat kental di pengaruhi oleh Outcoult, Dirks dan Opper. Tahun 1918 ia mendirikan Manga Kourakukai, sebuah asosiasi kartunis Jepang. Kitazawa adalah seorang pionir komik strip modern Jepang. Sekarang kartun/karikatur dan manga, mempunyai dunianya masing-masing dalam Jepang kontemporer.
Tradisi literatur atau sastra Jepang yang memikat dan biasanya berupaya menggiring emosional pembaca sehingga larut terbawa dalam imajinasi dan suasana cerita, tampaknya merupakan dasar kuat bagi kelanjutan perkembangan teknik bercerita dalam manga. Osamu Tezuka, yang dijuluki ‘The God of Manga’ yang tertarik sekali dengan desain karakter kartun Disney dan Max Fleischer, kemudian mengembangkan karakter individunya kedalam karya manga dan anime(sebutan khas animasi produksi Jepang) yang karena kepopulerannya, melanda berikutnya ke generasi-generasi selanjutnya hingga kini. Tezuka juga mendapatkan inspirasi dari film-film Jerman dan Perancis yang ia tonton semasa remaja, membawanya pada eksperimen teknik sinematografis masuk ke dalam manga Jepang, diantaranya melalui penciptaan efek-efek kesan ruang dan kedalaman, teknik 'passing' adegan, gerak dinamis dan slow motion, ritme cerita yang mendebarkan, dan alur cerita yang mengasyikkan dan tak harus selalu berakhir gembira. Beberapa efek sinematografis yang ia masukkan ke dalam manga adalah seperti pengambilan adegan dalam framing yang transisi obyeknya berubah perlahan-lahan. Semacam kesan zooming, pengambilan shoot gambar yang detail dari sudut ke sudut suatu obyek.
Jepang kontemporer mengandung banyak unsur campuran berbagai kebudayaan impor. Dimana di dalam pencampuran itu masih selalu terlekat erat esensi unsur yang menunjukkan tradisi ke-Jepangan-nya, misalnya saja kultur Jepang yang sangat menghemat ruang dan kompak, filosofis hidup ajaran Zen dan Konfusius, terlihat mempengaruhi lahirnya komposisi dan struktur lay-out manga yang efektif dan efisien dalam menggunakan bidang kertas terbatas namun tetap dijaga kejernihan
Perkembangan suatu hal tentu tak lepas begitu saja dari perjalanan masa lalunya, dan kejayaan masa lalu . Komik merupakan salah satu sinyalir "perekat budaya", komik melangsungkan evolusinya bersama-sama dengan berjalannya peradaban manusia. Kata 'komik' tersebut tidaklah berdiri sendiri, kata komik muncul pertama kali dengan ekornya 'strip' ( the comic strip) dan ia bukan pula merupakan suatu bentuk seni yang sama sekali baru seperti yang suka diangkat sebagian orang, komik diibaratkan sebuah perayaan atas kematian yang brilian dari konsepsi artistik yang sudah usang(out of date)
.
Secara naif biasanya komik strip di anggap mirip dengan narasi grafis (graphic narration). Kebiasaan ini adalah upaya menyetarakan komik dengan model awal narasi visual seperti gambaran/relief di Trajan Column atau Queen Mathilde’s, berikut pula contoh lainnya seperti lembaran-lembaran papirus Mesir, Bayeux Tapestry, novel cukilan kayu. Gambaran terdekatnya pada kita dapat di temui pada relief candi Borobudur dan Prambanan yang terkenal, secara spesifik Indonesia mempunyai Wayang Beber di Jawa, yang menggunakan teknik bercerita dengan gambar adegan per adegan. Dalanglah yang menarasikan satu persatu gulungan wayang beber dan menjalin kisah di dalamnya. Ada juga Prasi, ilustrasi dan lukisan dari daun lontar di Bali. Dan yang mendekati adalah ilustrasi naratif manuskrip Jawa yang banyak ditemukan berasal dari pertengahan abad ke 19, seperti Serat Rama Kawi, Serat Bratayuda, Serat Panji Jayakusuma, Serat Damarwulan . Tarik mundurlah lebih jauh lagi hingga ke lukisan dinding zaman pra-sejarah dan kita mempelajarinya sebagai sebuah arkeologi komik. Membedakan antara ‘komik’ dan model awal 'narasi visual' yang disebut-sebut itu, sedikit mirip seperti menganalogikan perbedaan 'sinema/bioskop/ layar tancap' dengan ‘wayang’(shadow teater/puppet); meski film atau animasi dapat di wayang-kan seperti dilakukan Lotte Reiniger(animator) , namun secara eksplisit kita bisa cukup jelas dalam membedakan keduanya.
Abad ke 19 di Eropa tercatat banyak eksplorasi dari narasi-narasi bergambar (illustrated narratives), yang beriringan dengan perkembangan teknologi cetak seperti zincography dan photoengraving. Tapi narasi itu, yang disebut "Images d’Epinal" di Perancis dan "Bilderbogen" di Jerman, masih menempatkan "jarak" antara teks dan gambar. Secara artistikal puncaknya kreasi cerita gambar (picture stories) ini dibuat oleh Rodolphe Toppfer dan Wilhelm Busch. Di abad-abad sebelumnya telah berlangsung eksprimen-eksperimen yang untuk sementara waktu terlihat antara teks dan ilustrasi berjalan di jalur yang berbeda, sampai akhirnya hadirlah ilustrasi cerita karya William Hogarth di tahun 1730-an yang menyatukan keterpisahan antara teks dan gambar, ke dalam satu jalinan cerita. Hogarth membuat sealami mungkin rangkaian adegan(sekuensial) dari sebuah visual naratif, dengan melukisan adegannya seolah-olah berada pada sebuah aksi panggung. Alhasil timbullah kesan dramatikal yang memikat. Apa yang Hogarth lakukan masa itu merupakan sesuatu hal yang sungguh berbeda dari cara mengillustrasi yang lazim di zamannya, sehingga dari sanalah diberikan sebutan yaitu "kartun(cartoon)". Konsepsi berupa setting antara teks dan gambar yang ia buat itu kelak akan menggiring adanya temuan sistematis penggunaan balon kata. Diduga konsepsi semacam ini berlanjut menelurkan asal-usul bentuk komik seutuhnya yaitu 'komik strip'.
Menjelang pergantian akhir abad ke 19, lahirnya bentuk budaya baru yang disebut komik ini, maka mulailah tampil ke depan pintu zaman sebuah model ekspresi baru yang populer. Menyandingkan pepatah Konfusius yang berbunyi, "A Picture means A Thousand Words", komik mendapatkan induksi pemaknaan yang lebih berarti sebagai sebuah media penyampai pesan yang memadukan teks narasi dan ilustrasi gambar. Sebagaimana yang diupayakan Will Eisner, seorang komikus Amerika yang sukses mengembangkan komik dalam bentuk yang ia sebut-sebut novel grafis (graphic novel), dimana dalam pandangannya buku komik merupakan montase kata dan gambar dimana seorang pembaca harus melatih kemampuannya menginterpretasikan hal-hal secara verbal dan visual bersamaan.
Rezim seni(seperti: perspektif, komposisi, sapuan kuas) dan rezim literatur(seperti: tata bahasa, plot, sintaksis) keduanya menjadi saling terataskan. Membaca komik adalah sebentuk upaya melakukan persepsi estetik (keindahan) dan pengejaran intelektual. Ia memperbandingkan komik sebagai seni merangkai adegan (sequential art) .
Komik dalam pandangan menurut Scott McCloud, "Juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequence, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer." Terjemahan yang dikutip dari bukunya Memahami Komik terbitan KPG adalah, "Gambar-gambar serta lambang-lambang lain yang terjuktaposisi dalam turutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan/atau mencapai tanggapan estetis dari pembacanya."
Pada tahun 1973, Malte Dahrendorf menyebut komik sebagai benda/barang gambar secara masal adalah kisah bertekanan pada gerak dan tindakan yang ceritanya dalam urutan gambar dengan daftar dan jenisnya yang khas . Jika kita percaya pada tesis Marshall McLuhan yang menyebutkan tentang "Berakhirnya kurun waktu buku(bacaan/tulisan)" dan meramalkan "Kurun waktu berlambang gambar", maka berlimpahnya penggunaan bahasa visual seperti yang terdapat dalam komik masih akan meluas lagi.
Jepang menyimpan penamaan tersendiri untuk komik yaitu 'Manga', dengan huruf kanji yang sama di Cina disebut Man Hua. Sebelumnya sempat di kenal sebutan Ponchi-e (istilah untuk gambar-gambar dari majalah Punch yang terbit pertama kali tahun 1814 di Inggris) dan juga komikkusu (mengadaptasi dari kata comics). Asal usul istilah Manga sendiri tidak ada keterkaitan spesifik dengan pengertian manga sebagaimana kita kenal sekarang ini sebagai sebutan untuk komik ala Jepang. Dahulu pada tahun 1814, jilid pertama “Hokusai Manga” diterbitkan, isinya adalah sketsa-sketsa Katshuhika Hokusai(1760-1849), seorang artis ukiyo-e (seni cukil kayu Jepang) yang terkenal, diterbitkan sebanyak 15 jilid. Tak ada gerak-gerik manusia yang luput dari ketajaman observasi matanya dan goresan kuasnya yang ekspresif. Hokusai menggambarkan obyektifitas pandangannya tentang kemanusiaan dari sisi yang humoris . Artis lain yang dinilai punya peran penting pada dunia komik Jepang adalah Yoshitoshi Tsukioka (1839-1892) artis ukiyo-e generasi akhir masa Meiji, adalah artis yang sangat baik melukiskan monster, makhluk aneh dan fantasi.
Konotasi manga kala itu disamakan dengan cartoon, dengan caranya sendiri-sendiri William Hogarth dan Katshuhika Hokusai melahirkan bentuk ilustrasi yang berbeda dari umum di tempat dan zamannya masing-masing. Adalah Rakuten Kitazawa(1876-1955) yang kemudian menjeneralisirkan penggunaan istilah Manga sebagai pengertian untuk kartun dan komik strip di Jepang, melalui suplemen hari minggu di harian Jiji Shinpou. Karya-karyanya masih sangat kental di pengaruhi oleh Outcoult, Dirks dan Opper. Tahun 1918 ia mendirikan Manga Kourakukai, sebuah asosiasi kartunis Jepang. Kitazawa adalah seorang pionir komik strip modern Jepang. Sekarang kartun/karikatur dan manga, mempunyai dunianya masing-masing dalam Jepang kontemporer.
Tradisi literatur atau sastra Jepang yang memikat dan biasanya berupaya menggiring emosional pembaca sehingga larut terbawa dalam imajinasi dan suasana cerita, tampaknya merupakan dasar kuat bagi kelanjutan perkembangan teknik bercerita dalam manga. Osamu Tezuka, yang dijuluki ‘The God of Manga’ yang tertarik sekali dengan desain karakter kartun Disney dan Max Fleischer, kemudian mengembangkan karakter individunya kedalam karya manga dan anime(sebutan khas animasi produksi Jepang) yang karena kepopulerannya, melanda berikutnya ke generasi-generasi selanjutnya hingga kini. Tezuka juga mendapatkan inspirasi dari film-film Jerman dan Perancis yang ia tonton semasa remaja, membawanya pada eksperimen teknik sinematografis masuk ke dalam manga Jepang, diantaranya melalui penciptaan efek-efek kesan ruang dan kedalaman, teknik 'passing' adegan, gerak dinamis dan slow motion, ritme cerita yang mendebarkan, dan alur cerita yang mengasyikkan dan tak harus selalu berakhir gembira. Beberapa efek sinematografis yang ia masukkan ke dalam manga adalah seperti pengambilan adegan dalam framing yang transisi obyeknya berubah perlahan-lahan. Semacam kesan zooming, pengambilan shoot gambar yang detail dari sudut ke sudut suatu obyek.
Jepang kontemporer mengandung banyak unsur campuran berbagai kebudayaan impor. Dimana di dalam pencampuran itu masih selalu terlekat erat esensi unsur yang menunjukkan tradisi ke-Jepangan-nya, misalnya saja kultur Jepang yang sangat menghemat ruang dan kompak, filosofis hidup ajaran Zen dan Konfusius, terlihat mempengaruhi lahirnya komposisi dan struktur lay-out manga yang efektif dan efisien dalam menggunakan bidang kertas terbatas namun tetap dijaga kejernihan
Subscribe to:
Comments (Atom)