Search This Blog

Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, 3 July 2011

cerpen

oleh : Khairani Rizal

Dipinggir Sungai Musi, ada seorang anak perempuan yang sedang melamun. Tatapannya begitu jauh! Tidak ada seorang pun yang tahu pasti apa yang sekarang sedang perempuan itu pikirkan! Dari raut muka dan tatapan matanya, tersirat bahwa betapa berat tantangan hidup yang sedang ia hadapi saat ini! Gerakan tubuhnya pun seolah mengisyaratkan kegelisahan yang amat sangat!

Dari kegelisahan yang sekarang sedang berkecamuk dihatinya itu, tiba-tiba ia teringat dengan seorang anak kecil, yang notabennya ia bertemu dengan anak itu di suatu perlombaan saat bulan suci ramadhan. Anak itu lucu sekali, badannya subur alias gendut dan pipinya kayak badut, merah merona! Dengan girangnya, hampir semua perlombaan yang ada, anak kecil itu ikuti! Subhanaallah, itu adalah kata pertama yang ia ucapkan untuk anak itu!

Anak perempuan itupun sangat penasaran, “Apa sih yang membuat anak kecil itu begitusemangat mengikuti semua lomba ini? Apakah dia tidak gugup berbicara di depan umum? Dan apa cita-citanya?”. Diawali oleh rasa penasaran tersebut, anak perempuan pun memberanikan diri untuk berbicara dengan anak itu!

“Hai dik…” dengan senyum yang amat lebar, ia sapa anak kecil itu

“Hai juga kak….” anak kecil itupun membalas senyum nya

“Adik ini lucu banget sih!”

Dengan senyum yang malu- malu dia menjawab:

“Ow ya kak?”

“Ya dik, mana mungkin kakak bohong! Ngomong-ngomong adik sekarang udah kelas berapa?”

Dengan senyum yang malu-malu lagi dia menjawab:

“Udah kelas 5 SD kak.

“Ow, udah kelas 5 toh. Hehehe…”

“Dik, boleh tidak kakak bertanya sesuatu?”

“Mau tanya apa kak?”

“Kok adik bisa semangat banget sih hari ini, semua perlombaan adik ikutin. Apakah adik tidak gugup?”

Dengan senyum termanisnya, anak itu tertawa.

“Kok ketawa?”

“Nggak apa-apa kak, cuma lucu aja. Kakak merupakan orang kesekian yang bertanya seperti itu hari ini.”

Dengan senyum yang malu-malu, anak perempuan itu menjawab,

“Ow ya?”

“Ya kak, mau tau gak jawaban adik untuk pertanyaan itu apa?”

“Apa?”

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi kak untuk kita bisa berkarya. Ingat lo, umur seseorang itu tidak ada yang tahu sampai kapan! Hehehe…”

Dengan senyum yang malu-malu lagi anak perempuan itu menjawab:

“Hehehehe… Bisa aja adik ini, kakak jadi malu!”

“Dik, boleh kakak bertanya lagi?”

“Mau tanya apa kak?”

“Adik pasti punya cita-cita dong!”

Dengan wajah bingung, dia menjawab:

“Iya, terus kenapa kak?”

“Boleh nggak kakak tahu cita-cita adik jadi apa?”

Dengan senyum kecilnya, dia menjawab,

“Boleh lah kak, cita-cita adik sih ingin jadi dokter jantung kak!”

“Dokter jantung?”dengan nada sedikit terkejut

“Ya kak. Emang kenapa? ”

“Ow ya? Hebat dong, emang apa yang melatarbelakangi cita-cita adik itu?”

Dengan semangat yang membara anak kecil itupun menjawab,

“1. Jantung adalah organ yang paling penting untuk manusia kak, karena apabila jantung tidak berdetak lagi, berarti hidup orang yang memiliki jantung itu sudah berakhir!”

2. Adik prihatin banget kak dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Yang sama sekali tidak bisa dibilang atau malah jauh untuk bisa dikatakan masyarakat yang makmur. Pengangguran ada dimana-mana, kemiskinan merajalela, semua nya jauh dari kata makmur.”

Dengan wajah bingung, anak perempuan itu bertanya lagi.

“Jadi hubungannya dengan adik ingin jadi dokter jantung itu apa untuk alasan kedua?”

“Ayah adik pernah bilang, bahwa hampir 50% penderita jantung itu dari kalangan orang miskin kak. Banyak sekali orang miskin yang meninggal karena mereka tidak mempunyai biaya untuk mengobati penyakitnya itu! Nah, dari sana lah, adik ingin meringankan beban mereka, adik ingin bekerja secara cuma-cuma untuk mereka.”

“Jadi bagaimana cara adik untuk bertahan hidup, jikalau adik bekerja tanpa upah atau gaji?”

Dengan semangat lagi, anak kecil itu menjawab,

“Uang bisa dicari kak, tapi nyawa itu tidak bisa dicari.”

Subhanaallah, alangkah mulia dan polos nya adik ini, sampai-sampai dia bisa berkata seperti itu.

“Dik, boleh nggak kakak minta sesuatu dari adik?”

Dengan wajah yang kebingungan, anak kecil itupun menjawab,

“Ehm, minta apa kak?”

“Adik janji ya ma kakak!”

“Janji?”

“Ya janji, bahwa adik akan berusaha untuk mewujudkan cita-cita adik itu, kakak ingin mendengar, ada seorang dokter penyakit jantung yang sangat dermawan! Dielu-elukan oleh khalayak ramai dan itu adalah adik. Ok? Adik mau kan janji dengan kakak untuk itu?”

Dengan semangatnya, ia menjawab,

“Ok kak, doa’in adik ya supaya bisa menggapai dan menepati itu semua.”

” amin ya robbal ‘alamin…..”

Anak perempuan itu sangat salut dengan anak kecil tersebut. Disisi lain, ia juga merasa rendah dibandingkan dengan anak itu! Didalam hatinya ia bekata “Aku belajar banyak hal dari dia. Belajar ketulusan, kepolosan dan keikhlasan, semua itu kudapatkan darinya. Anak perempuan itupun lebih termotivasi lagi untuk belajar dan mengejar cita-citanya. Dia tidak mau lagi membuang waktu dalam hidupnya yang sangat berharga ini dengan sia-sia. Adik itu bisa ahli dalam bidangnya, dan tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga bisa ahli dalam bidang yang dipilihnya.

Ia pun bangkit dari lamunannya dipinggir sungai musi itu. Dirasakannya bahwa ada sebuah energi baru yang masuk kedalam jiwa. Sekarang, kelamnya hidup, beratnya beban, dan kegelisahan yang sering menerpa nya pun sudah tak dipikirkannya lagi. Dia langkahkan kaki dengan optimis, semangat dan istiqomah bermottokan “Keep enjoy your life”.

sumber:
http://remaja.suaramerdeka.com/2011/06/16/pertemuan-yang-berkesan/ fatma

Wednesday, 5 May 2010

Cerita Ruri

Ini merupakan cerita mengenai perjuangan seorang anak manusia, bernama Ruri dengan kondisi ekonomi orang tua yang bisa dikatakan pas-pasan ia ingin bersekolah agar nantinya ia bisa membahagiakan orangtuanya. Tiap hari ia harus bangun pagi karena ia harus berangkat kesekolah dengan berjalan kaki, jarak sekolah dengan rumahnya sekitar 2 km. Begitulah kesehariannya. walaupun anak ini tidak terlalu suka bergaul namun jika ada teman yang membutuhkan bantuannya ia mau menolong. Ruri anaknya tidak terlalu suka bergaul karena sudah terbiasa sendiri. sejak SD sekolahnya sudah tidak bersama dengan teman-teman satu desanya, dia punya seorang teman cewek anaknya bisa dikatakan cantik, Ismy namanya. teman Ruri biasa berbagi dan bercerita mengenai pelajarannya dan juga berbagi keluh kesah dengan Ismy, tiap pulang sekolah mereka selalu bersama karena rumah mereka satu arah, mereka berjalan bersama sambil bercanda dijalan seperti anak-anak pada umumnya, sesekali mereka beristirahat untuk melepas lelah sambil memandangi awan yang ada dilangit, lama kelamaan antara mereka timbulah ikatan yang cukup erat seperti ikatan kakak dan adik. Seiring berjalannya waktu mereka berdua bertambah dewasa, tidak terasa waktu cepat berlalu mereka kini sudah duduk dibangku kelas 6 masa-masa yang biasanya mereka lalui bersama sedikit-demi sedikit mulai berkurang Karena masing-masing dari mereka punya kesibukan sendiri untuk menghadapi ujian sekolah.
Setelah beberapa minggu Ujian sekolahpun telah selesai, dan kini tibalah saat perpisahan suasana terasa sangat menyedihkan dan juga haru. Banyak anak yang meneteskan airmata karena mereka akan berpisah dengan sahabat yang selama ini selalu bersama mereka, sahabat yang biasa bermain bersama, sahabat yang biasa tertawa bersama, sahabat yang biasa diajak berbagi cerita. Para gurupun ikut larut dalam suasana haru, bahkan ada juga guru yang ikut menangis, karena mereka harus berpisah dengan anak-anak yang mereka didik. Beberapa minggu kemudian tibalah waktu pendaftaran masuk kesekolah menengah pertama. Sejak saat inilah kehidupan Ruri berubah, karena Ismy sahabatnya sejak kecil, sahabat yang biasa ia ajak berbagi cerita tidak meneruskan kesekolah dimana ia bersekolah mendaftar, Ruripun merasa kesepian ia merasa bahwa sahabatnya telah meninggalkannya.
Masa orientasi siswa di sekolah menengah pertama dimulai Ruri mendapat kenalan banyak teman temannya baik-baik meskipun ada satu dua orang yang nakal, namun karena rasa kecewanya terhadap Ismy dan juga karena sejak kecil ia terbiasa sendiri, Rury mulai menutup diri terhadap teman yang datang dan ingin bermain bersamanya. Seiring berjalannya waktu Rury mulai bisa menerima perpisahannya dengan Ismy, ia mulai mau bermain dengan anak-anak yang lain namun tetap hanya ada satu teman yang benar-benar dekat dan ia percaya. Sejak Rury sekolah di SMP ia lebih sering bergaul dengan anak SMA hal ini mempengaruhi cara berfikirnya sehingga cara berfikirnya sudah tidak seperti anak-anak seusianya dan rasa individualnya makin bertambah karena ia berfikir bahwa tidak ada anak seusianya yang mengertia dan dapat diajak berbagi pendapat dengannya. Tiga tahun berlalu dengan cepat tibalah saat ujian nasional, ujian berlangsung selama tiga hari, saat-saat ujian terasa begitu membosankan.
Tibalah saat pengumuman ujian nasional, saat pengumuman Ruri mendapat nilai yang lumayan bagus, walaupun tidak sebagus teman-temanya kemudian Ruri masuk ke SMA, yang ia inginkan. Saat kelas satu ia mencoba untuk membaur dengan teman-temannya namun hal tersebut tidak mudah karena ia terbiasa menyendiri, seiring berjalannya kini Ruri sudah kelas dua, pada saat mulai kelas dua inilah anak satu kelas terbagi menjadi dua kelompok, kelompok Ruri terdiri dari lima orang mereka biasa menyebut kelompok mereka sebagai pandara anggota kelompok ini ialah anak-anak yang dahulunya terbiasa menyendiri seperti Ruri. kedua kelompok ini saling bersaing untuk mendapatkan nilai yang baik dalam setiap pelajaran dua kelompok ini tidak pernah sependapat. Seiring berjalannya waktu kedua kelompok ini akhirnya mau bersatu dikarenakan mereka sudah kelas tiga selain itu mereka juga mulai sadar bahwa tujuan mereka bersaing selama ini ialah untuk mendapatkan nilai yang baik dalam setiap pelajaran......