Search This Blog
Wednesday, 7 September 2011
Secarik Maaf untuk Sahabat
Tempo hari, kubuang buku harian lusuh
Berkisah segala cinta, tawa, dan keluh
Tentang namamu
Dalam angkuh kubisik kata,
“Aku tak lagi butuh dirimu....”
Aku meluap lupa pada sebuah nama, pada sebuah perjamuan
Bintang yang sering kita pandang, telah lumat dalam ingat
Kuingkari jarak yang sungguh dapat kulacak
Lantas kusimpan potretmu, pada bingkai berkarat
Hari telah mengubah nama, waktu belum usai mengganti posisi
Canda tawa dan janji masa muda mengabur begitu saja
Acuhku retakkan prasasti
Sebuah persahabatan
Lalu pada sebuah senja di akhir Ramadhan
Gema takbir memukul sisi penaku
Meluruh jiwaku
Simbahi lembaran penuh nista
Aku mengais bumi, temui keping ceriamu
Maaf kugemakan di antara koridor waktu
“Sobat, maafkan salahku...”
Duhai sahabat,
Benar-benar kupahami arti sebuah pertemuan
Tak kupungkiri awal sebuah perpisahan
Kuakui ku tak selalu benar
Secarik maaf ini kukirim kepadamu, teriring butir ketulusan yang kukabar bersama angin…
:Untuk sahabat masa sekolahku yang kerap terlupa
Sehingga tak jarang, kita tak pernah berkabar
Tentang gerimis dan hujan yang kerap jadi mimpi kita
By : temenku... Kurnia Hidayati
Monday, 8 August 2011
OKPT FIP UNNES 2011
Orientasi Kepramukaan Perguruan Tinggi (OKPT)
Guguslatih Ilmu Pendidikan - Racana Wijaya
Gugus Depan Kota Semarang 14.111-14.112 Universitas Negeri Semarang
Tahun 2011
Kegiatan dilaksanakan pada hari Minggu dan Senin, 21 dan 22 Agustus 2011 dimulai pukul 07.00 (tidak menginap). Pelaksanaan kegiatan OKPT bertempat di Auditorium Unnes (21 Agustus 2011) dan di Fakultas Ilmu Pendidikan (22 Agustus 2011).
Peserta diwajibkan mengenakan pakaian Pramuka lengkap yang terdiri atas:
a. Putra: baret, hasduk, baju Pramuka, celana Pramuka, kaos kaki hitam, sepatu hitam-pantovel
b. Putri: topi, stangan leher, baju Pramuka, rok Pramuka, kaos kaki krem/tidak berkaos kaki, sepatu hitam-pantovel. Untuk yang berjilbab, mengenakan jilbab warna cokelat tua (sama dengan warna rok).
Baju Pramuka boleh beratribut, dan boleh tidak beratribut. Untuk tanda tingkat memakai warna kuning (Penegak).
Pendaftaran OKPT dilaksanakan secara online mulai Rabu, 10 Agustus 2011 di http://pramuka.unnes.ac.id/okpt dengan klik menu ‘DAFTAR’. Setelah mendaftar, silakan ‘Cetak Form‘ dan ‘Cetak Cocard‘. Form pendaftaran dikumpulkan pada saat pelaksanaan OKPT, sedangkan Cocard dipakai selama kegiatan OKPT berlangsung.
Informasi selanjutnya akan diberikan pada saat Technical Meeting, pada hari Selasa, 16 Agustus 2011 yang bertempat di Fakultas Ilmu Pendidikan (bersamaan dengan Technical Meeting Program Pengenalan Akademik {PPA}).
Informasi OKPT Guguslatih Ilmu Pendidikan bisa diperoleh di
Guguslatih Ilmu Pendidikan - Racana Wijaya
Gugus Depan Kota Semarang 14.111-14.112 Universitas Negeri Semarang
Tahun 2011
Kegiatan dilaksanakan pada hari Minggu dan Senin, 21 dan 22 Agustus 2011 dimulai pukul 07.00 (tidak menginap). Pelaksanaan kegiatan OKPT bertempat di Auditorium Unnes (21 Agustus 2011) dan di Fakultas Ilmu Pendidikan (22 Agustus 2011).
Peserta diwajibkan mengenakan pakaian Pramuka lengkap yang terdiri atas:
a. Putra: baret, hasduk, baju Pramuka, celana Pramuka, kaos kaki hitam, sepatu hitam-pantovel
b. Putri: topi, stangan leher, baju Pramuka, rok Pramuka, kaos kaki krem/tidak berkaos kaki, sepatu hitam-pantovel. Untuk yang berjilbab, mengenakan jilbab warna cokelat tua (sama dengan warna rok).
Baju Pramuka boleh beratribut, dan boleh tidak beratribut. Untuk tanda tingkat memakai warna kuning (Penegak).
Pendaftaran OKPT dilaksanakan secara online mulai Rabu, 10 Agustus 2011 di http://pramuka.unnes.ac.id/okpt dengan klik menu ‘DAFTAR’. Setelah mendaftar, silakan ‘Cetak Form‘ dan ‘Cetak Cocard‘. Form pendaftaran dikumpulkan pada saat pelaksanaan OKPT, sedangkan Cocard dipakai selama kegiatan OKPT berlangsung.
Informasi selanjutnya akan diberikan pada saat Technical Meeting, pada hari Selasa, 16 Agustus 2011 yang bertempat di Fakultas Ilmu Pendidikan (bersamaan dengan Technical Meeting Program Pengenalan Akademik {PPA}).
Informasi OKPT Guguslatih Ilmu Pendidikan bisa diperoleh di
Tuesday, 12 July 2011
sebuah ruby
Alkisah, di sebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu rubi yang sangat indah. Raja sangat menyayangi, mengaguminya, dan berpuas hati karena merasa memiliki sesuatu yang indah dan berharga. Saat permaisuri akan melangsungkan ulang tahunnya, raja ingin memberikan hadiah batu rubi itu kepada istri tercintanya. Tetapi saat batu itu dikeluarkan dari tempat penyimpanan, terjadi kecelakaan sehingga batu itu terjatuh dan tergores retak cukup dalam.
Raja sangat kecewa dan bersedih. Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan, tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga tersebut.
“Mohon ampun, Baginda. Goresan retak di batu ini tidak mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti keadaan semula.”
Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang mungkin waktu itu terlewatkan.
Tidak lama kemudian datanglah ke istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh, mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk menghadap.
“Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena kerusakan batu rubi kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk melihat dan mencoba memperbaikinya. ”
“Baiklah, niat baikmu aku kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut.
Setelah melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan
semula, tetapi bila diperkenankan, saya akan membuat batu rubi retak ini menjadi lebih indah.”
Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu rubi itu, raja akhirnya setuju. Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok.
Beberapa hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata rubi yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah. Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.”
Si ahli permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah membuat raja yang dicintainya berbahagia.
Raja sangat kecewa dan bersedih. Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan, tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga tersebut.
“Mohon ampun, Baginda. Goresan retak di batu ini tidak mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti keadaan semula.”
Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang mungkin waktu itu terlewatkan.
Tidak lama kemudian datanglah ke istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh, mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk menghadap.
“Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena kerusakan batu rubi kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk melihat dan mencoba memperbaikinya. ”
“Baiklah, niat baikmu aku kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut.
Setelah melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan
semula, tetapi bila diperkenankan, saya akan membuat batu rubi retak ini menjadi lebih indah.”
Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu rubi itu, raja akhirnya setuju. Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok.
Beberapa hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata rubi yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah. Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.”
Si ahli permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah membuat raja yang dicintainya berbahagia.
Sunday, 10 July 2011
Kita tak pernah sendiri
(Alone but not Alones)
Seekor lebah madu menjalani kesehariannya untuk mencari nectar bersama sahabat-sahabatnya. Suatu ketika dia terpisah dari sahabat-sahabatnya dan tersesat, lebahpun merasa sangat sedih, ia merasa sangat kehilangan sahabat-sahabatnya. Mereka yang selalu bersamanya. Namun sang lebah tidak menyerah dia berusaha keras untuk menemukan sahabat-sahabatnya dan kembali kesarang. Setelah sekian lama mencari ia masih belum dapat menemukan sahabat-sahabatnya, maka tersirat dalam fikirannya bahwa sahabatnya telah pergi meninggalkannya. Dalam keadaan tersebut lebah berusaha untuk belajar kembali, ia belajar mendengar, melihat dan merasakan, bukan dengan indranya ia melakukan hal tersebut melainkan menggunakan hatinya dengan nuraninya, karena hal tersebutlah akhirnya ia menemukan kembali sahabat-sahabatnya yang tadinya ia kira telah meninggalkannya. Bahkan ia akhirnya bisa menemukan pasangannya.
Seekor lebah madu menjalani kesehariannya untuk mencari nectar bersama sahabat-sahabatnya. Suatu ketika dia terpisah dari sahabat-sahabatnya dan tersesat, lebahpun merasa sangat sedih, ia merasa sangat kehilangan sahabat-sahabatnya. Mereka yang selalu bersamanya. Namun sang lebah tidak menyerah dia berusaha keras untuk menemukan sahabat-sahabatnya dan kembali kesarang. Setelah sekian lama mencari ia masih belum dapat menemukan sahabat-sahabatnya, maka tersirat dalam fikirannya bahwa sahabatnya telah pergi meninggalkannya. Dalam keadaan tersebut lebah berusaha untuk belajar kembali, ia belajar mendengar, melihat dan merasakan, bukan dengan indranya ia melakukan hal tersebut melainkan menggunakan hatinya dengan nuraninya, karena hal tersebutlah akhirnya ia menemukan kembali sahabat-sahabatnya yang tadinya ia kira telah meninggalkannya. Bahkan ia akhirnya bisa menemukan pasangannya.
Sunday, 3 July 2011
cerpen
oleh : Khairani Rizal
Dipinggir Sungai Musi, ada seorang anak perempuan yang sedang melamun. Tatapannya begitu jauh! Tidak ada seorang pun yang tahu pasti apa yang sekarang sedang perempuan itu pikirkan! Dari raut muka dan tatapan matanya, tersirat bahwa betapa berat tantangan hidup yang sedang ia hadapi saat ini! Gerakan tubuhnya pun seolah mengisyaratkan kegelisahan yang amat sangat!
Dari kegelisahan yang sekarang sedang berkecamuk dihatinya itu, tiba-tiba ia teringat dengan seorang anak kecil, yang notabennya ia bertemu dengan anak itu di suatu perlombaan saat bulan suci ramadhan. Anak itu lucu sekali, badannya subur alias gendut dan pipinya kayak badut, merah merona! Dengan girangnya, hampir semua perlombaan yang ada, anak kecil itu ikuti! Subhanaallah, itu adalah kata pertama yang ia ucapkan untuk anak itu!
Anak perempuan itupun sangat penasaran, “Apa sih yang membuat anak kecil itu begitusemangat mengikuti semua lomba ini? Apakah dia tidak gugup berbicara di depan umum? Dan apa cita-citanya?”. Diawali oleh rasa penasaran tersebut, anak perempuan pun memberanikan diri untuk berbicara dengan anak itu!
“Hai dik…” dengan senyum yang amat lebar, ia sapa anak kecil itu
“Hai juga kak….” anak kecil itupun membalas senyum nya
“Adik ini lucu banget sih!”
Dengan senyum yang malu- malu dia menjawab:
“Ow ya kak?”
“Ya dik, mana mungkin kakak bohong! Ngomong-ngomong adik sekarang udah kelas berapa?”
Dengan senyum yang malu-malu lagi dia menjawab:
“Udah kelas 5 SD kak.
“Ow, udah kelas 5 toh. Hehehe…”
“Dik, boleh tidak kakak bertanya sesuatu?”
“Mau tanya apa kak?”
“Kok adik bisa semangat banget sih hari ini, semua perlombaan adik ikutin. Apakah adik tidak gugup?”
Dengan senyum termanisnya, anak itu tertawa.
“Kok ketawa?”
“Nggak apa-apa kak, cuma lucu aja. Kakak merupakan orang kesekian yang bertanya seperti itu hari ini.”
Dengan senyum yang malu-malu, anak perempuan itu menjawab,
“Ow ya?”
“Ya kak, mau tau gak jawaban adik untuk pertanyaan itu apa?”
“Apa?”
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi kak untuk kita bisa berkarya. Ingat lo, umur seseorang itu tidak ada yang tahu sampai kapan! Hehehe…”
Dengan senyum yang malu-malu lagi anak perempuan itu menjawab:
“Hehehehe… Bisa aja adik ini, kakak jadi malu!”
“Dik, boleh kakak bertanya lagi?”
“Mau tanya apa kak?”
“Adik pasti punya cita-cita dong!”
Dengan wajah bingung, dia menjawab:
“Iya, terus kenapa kak?”
“Boleh nggak kakak tahu cita-cita adik jadi apa?”
Dengan senyum kecilnya, dia menjawab,
“Boleh lah kak, cita-cita adik sih ingin jadi dokter jantung kak!”
“Dokter jantung?”dengan nada sedikit terkejut
“Ya kak. Emang kenapa? ”
“Ow ya? Hebat dong, emang apa yang melatarbelakangi cita-cita adik itu?”
Dengan semangat yang membara anak kecil itupun menjawab,
“1. Jantung adalah organ yang paling penting untuk manusia kak, karena apabila jantung tidak berdetak lagi, berarti hidup orang yang memiliki jantung itu sudah berakhir!”
2. Adik prihatin banget kak dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Yang sama sekali tidak bisa dibilang atau malah jauh untuk bisa dikatakan masyarakat yang makmur. Pengangguran ada dimana-mana, kemiskinan merajalela, semua nya jauh dari kata makmur.”
Dengan wajah bingung, anak perempuan itu bertanya lagi.
“Jadi hubungannya dengan adik ingin jadi dokter jantung itu apa untuk alasan kedua?”
“Ayah adik pernah bilang, bahwa hampir 50% penderita jantung itu dari kalangan orang miskin kak. Banyak sekali orang miskin yang meninggal karena mereka tidak mempunyai biaya untuk mengobati penyakitnya itu! Nah, dari sana lah, adik ingin meringankan beban mereka, adik ingin bekerja secara cuma-cuma untuk mereka.”
“Jadi bagaimana cara adik untuk bertahan hidup, jikalau adik bekerja tanpa upah atau gaji?”
Dengan semangat lagi, anak kecil itu menjawab,
“Uang bisa dicari kak, tapi nyawa itu tidak bisa dicari.”
Subhanaallah, alangkah mulia dan polos nya adik ini, sampai-sampai dia bisa berkata seperti itu.
“Dik, boleh nggak kakak minta sesuatu dari adik?”
Dengan wajah yang kebingungan, anak kecil itupun menjawab,
“Ehm, minta apa kak?”
“Adik janji ya ma kakak!”
“Janji?”
“Ya janji, bahwa adik akan berusaha untuk mewujudkan cita-cita adik itu, kakak ingin mendengar, ada seorang dokter penyakit jantung yang sangat dermawan! Dielu-elukan oleh khalayak ramai dan itu adalah adik. Ok? Adik mau kan janji dengan kakak untuk itu?”
Dengan semangatnya, ia menjawab,
“Ok kak, doa’in adik ya supaya bisa menggapai dan menepati itu semua.”
” amin ya robbal ‘alamin…..”
Anak perempuan itu sangat salut dengan anak kecil tersebut. Disisi lain, ia juga merasa rendah dibandingkan dengan anak itu! Didalam hatinya ia bekata “Aku belajar banyak hal dari dia. Belajar ketulusan, kepolosan dan keikhlasan, semua itu kudapatkan darinya. Anak perempuan itupun lebih termotivasi lagi untuk belajar dan mengejar cita-citanya. Dia tidak mau lagi membuang waktu dalam hidupnya yang sangat berharga ini dengan sia-sia. Adik itu bisa ahli dalam bidangnya, dan tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga bisa ahli dalam bidang yang dipilihnya.
Ia pun bangkit dari lamunannya dipinggir sungai musi itu. Dirasakannya bahwa ada sebuah energi baru yang masuk kedalam jiwa. Sekarang, kelamnya hidup, beratnya beban, dan kegelisahan yang sering menerpa nya pun sudah tak dipikirkannya lagi. Dia langkahkan kaki dengan optimis, semangat dan istiqomah bermottokan “Keep enjoy your life”.
sumber:
http://remaja.suaramerdeka.com/2011/06/16/pertemuan-yang-berkesan/ fatma
Dipinggir Sungai Musi, ada seorang anak perempuan yang sedang melamun. Tatapannya begitu jauh! Tidak ada seorang pun yang tahu pasti apa yang sekarang sedang perempuan itu pikirkan! Dari raut muka dan tatapan matanya, tersirat bahwa betapa berat tantangan hidup yang sedang ia hadapi saat ini! Gerakan tubuhnya pun seolah mengisyaratkan kegelisahan yang amat sangat!
Dari kegelisahan yang sekarang sedang berkecamuk dihatinya itu, tiba-tiba ia teringat dengan seorang anak kecil, yang notabennya ia bertemu dengan anak itu di suatu perlombaan saat bulan suci ramadhan. Anak itu lucu sekali, badannya subur alias gendut dan pipinya kayak badut, merah merona! Dengan girangnya, hampir semua perlombaan yang ada, anak kecil itu ikuti! Subhanaallah, itu adalah kata pertama yang ia ucapkan untuk anak itu!
Anak perempuan itupun sangat penasaran, “Apa sih yang membuat anak kecil itu begitusemangat mengikuti semua lomba ini? Apakah dia tidak gugup berbicara di depan umum? Dan apa cita-citanya?”. Diawali oleh rasa penasaran tersebut, anak perempuan pun memberanikan diri untuk berbicara dengan anak itu!
“Hai dik…” dengan senyum yang amat lebar, ia sapa anak kecil itu
“Hai juga kak….” anak kecil itupun membalas senyum nya
“Adik ini lucu banget sih!”
Dengan senyum yang malu- malu dia menjawab:
“Ow ya kak?”
“Ya dik, mana mungkin kakak bohong! Ngomong-ngomong adik sekarang udah kelas berapa?”
Dengan senyum yang malu-malu lagi dia menjawab:
“Udah kelas 5 SD kak.
“Ow, udah kelas 5 toh. Hehehe…”
“Dik, boleh tidak kakak bertanya sesuatu?”
“Mau tanya apa kak?”
“Kok adik bisa semangat banget sih hari ini, semua perlombaan adik ikutin. Apakah adik tidak gugup?”
Dengan senyum termanisnya, anak itu tertawa.
“Kok ketawa?”
“Nggak apa-apa kak, cuma lucu aja. Kakak merupakan orang kesekian yang bertanya seperti itu hari ini.”
Dengan senyum yang malu-malu, anak perempuan itu menjawab,
“Ow ya?”
“Ya kak, mau tau gak jawaban adik untuk pertanyaan itu apa?”
“Apa?”
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi kak untuk kita bisa berkarya. Ingat lo, umur seseorang itu tidak ada yang tahu sampai kapan! Hehehe…”
Dengan senyum yang malu-malu lagi anak perempuan itu menjawab:
“Hehehehe… Bisa aja adik ini, kakak jadi malu!”
“Dik, boleh kakak bertanya lagi?”
“Mau tanya apa kak?”
“Adik pasti punya cita-cita dong!”
Dengan wajah bingung, dia menjawab:
“Iya, terus kenapa kak?”
“Boleh nggak kakak tahu cita-cita adik jadi apa?”
Dengan senyum kecilnya, dia menjawab,
“Boleh lah kak, cita-cita adik sih ingin jadi dokter jantung kak!”
“Dokter jantung?”dengan nada sedikit terkejut
“Ya kak. Emang kenapa? ”
“Ow ya? Hebat dong, emang apa yang melatarbelakangi cita-cita adik itu?”
Dengan semangat yang membara anak kecil itupun menjawab,
“1. Jantung adalah organ yang paling penting untuk manusia kak, karena apabila jantung tidak berdetak lagi, berarti hidup orang yang memiliki jantung itu sudah berakhir!”
2. Adik prihatin banget kak dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Yang sama sekali tidak bisa dibilang atau malah jauh untuk bisa dikatakan masyarakat yang makmur. Pengangguran ada dimana-mana, kemiskinan merajalela, semua nya jauh dari kata makmur.”
Dengan wajah bingung, anak perempuan itu bertanya lagi.
“Jadi hubungannya dengan adik ingin jadi dokter jantung itu apa untuk alasan kedua?”
“Ayah adik pernah bilang, bahwa hampir 50% penderita jantung itu dari kalangan orang miskin kak. Banyak sekali orang miskin yang meninggal karena mereka tidak mempunyai biaya untuk mengobati penyakitnya itu! Nah, dari sana lah, adik ingin meringankan beban mereka, adik ingin bekerja secara cuma-cuma untuk mereka.”
“Jadi bagaimana cara adik untuk bertahan hidup, jikalau adik bekerja tanpa upah atau gaji?”
Dengan semangat lagi, anak kecil itu menjawab,
“Uang bisa dicari kak, tapi nyawa itu tidak bisa dicari.”
Subhanaallah, alangkah mulia dan polos nya adik ini, sampai-sampai dia bisa berkata seperti itu.
“Dik, boleh nggak kakak minta sesuatu dari adik?”
Dengan wajah yang kebingungan, anak kecil itupun menjawab,
“Ehm, minta apa kak?”
“Adik janji ya ma kakak!”
“Janji?”
“Ya janji, bahwa adik akan berusaha untuk mewujudkan cita-cita adik itu, kakak ingin mendengar, ada seorang dokter penyakit jantung yang sangat dermawan! Dielu-elukan oleh khalayak ramai dan itu adalah adik. Ok? Adik mau kan janji dengan kakak untuk itu?”
Dengan semangatnya, ia menjawab,
“Ok kak, doa’in adik ya supaya bisa menggapai dan menepati itu semua.”
” amin ya robbal ‘alamin…..”
Anak perempuan itu sangat salut dengan anak kecil tersebut. Disisi lain, ia juga merasa rendah dibandingkan dengan anak itu! Didalam hatinya ia bekata “Aku belajar banyak hal dari dia. Belajar ketulusan, kepolosan dan keikhlasan, semua itu kudapatkan darinya. Anak perempuan itupun lebih termotivasi lagi untuk belajar dan mengejar cita-citanya. Dia tidak mau lagi membuang waktu dalam hidupnya yang sangat berharga ini dengan sia-sia. Adik itu bisa ahli dalam bidangnya, dan tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga bisa ahli dalam bidang yang dipilihnya.
Ia pun bangkit dari lamunannya dipinggir sungai musi itu. Dirasakannya bahwa ada sebuah energi baru yang masuk kedalam jiwa. Sekarang, kelamnya hidup, beratnya beban, dan kegelisahan yang sering menerpa nya pun sudah tak dipikirkannya lagi. Dia langkahkan kaki dengan optimis, semangat dan istiqomah bermottokan “Keep enjoy your life”.
sumber:
http://remaja.suaramerdeka.com/2011/06/16/pertemuan-yang-berkesan/ fatma
Subscribe to:
Comments (Atom)
